Rabu, 29 Januari 2014

My first Love?? maybe..

Penaku mulai menari-nari indah diatas lembaran diary kesayanganku, menulis ulang kembali setiap kenangan manis maupun pahit telah menjadi rutinitasku sepanjang hari. Aku larut dalam setiap memori yang terjadi akhir-akhir ini. 

Burung-burung berkicauan disela-sela ranting pohon yang kini menjadi sandaranku. Alunan suara yang merdu dari paruh burung-burung tersebut selalu membuatku merasa nyaman dalam keadaan apa pun. 

Kuputar ulang memoriku pada kejadian beberapa tahun yang lalu, saat aku masih menjadi gadis cilik yang belum mengenal kehidupan nyata didunia. Saat aku masih bersuka ria menjalani kehidupan yang fana ini. Saat aku belum mengubah seluruh kepribadianku, masih menjadi gadis yang polos, yang tak menghiraukan setiap masalah yang terjadi didalam hati kecilku. Seulas senyum terukir diwajahku saat mengenang masa-masa itu. Namun tiba-tiba butiran bening itu perlahan jatuh dari kelopak mataku, Aku berusaha menahan rasa sakit yang muncul direlung hati. Saat mengingat kejadian yang menorehkan luka pada hati kecil yang mulai rapuh, kejadian itu adalah awal dari segalanya, awal dari kehidupan baruku.

****

“Ify, Ify...” teriak dua orang gadis cilik dari depan teras rumah Ify saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri.

Ify, gadis cilik yang dipanggil tersebut segera melahap sepotong roti dan segelas susunya. Ia beranjak dari kursi makannya dengan tergesa. Diambilnya tas selempang yang selalu setia menemani hari-harinya disekolah. Lalu, dengan segera melesat keluar rumah untuk menemui dua sosok teman kecil yang selalu membuatnya kelimpungan sepanjang hari.

“Lama banget sih, kita berdua bosen tahu nunggu kamu disini selama 1 abad” Cerocos sosok gadis chubby yang biasa dipanggil Via.

“Yee,, baru juga 5 menit kali” Seru Ify tak ingin disalahkan

“Udah, udah berangkat sekarang aja yuk mumpung masih pagi. Udaranya juga masih seger nih” Potong Shilla, sosok gadis manis yang sedari tadi hanya memandang polos kearah 2 temannya yang sedang berkomat-kamit tak jelas

Dengan langkah ringan dan wajah yang ceria, ketiga gadis cilik ini terus melangkahkan kakinya dijalan yang berbatu dan basah oleh tetesan embun pagi. Burung-burung berkicauan diatas langit yang cerah menampakkan sayapnya yang indah keseluruh penjuru dunia. Sungguh pagi ini merupakan pagi yang menyejukkan. Sesekali, terdengar suara tawa yang lepas dari ketiga gadis ini, menambah nyamannya suasana pagi.

“Ify, kamu harus percaya aku, Rio bener-bener suka sama kamu. Kemarin dia ngomong gitu sama aku.” Ucap Via menggebu-gebu.”

"Gak mungkin Via, aku gak percaya si botak itu suka sama aku, tiap hari aku sama dia kan suka berantem” Ify terlihat menggembungkan pipinya kesal

“Botak? Hellooo Ify, dia udah gak botak lagi kali, kamu masih inget aja wajah botaknya waktu kelas 2 SD. Jangan-jangan kamu udah naksir dia waktu itu” Todong Via asal sambil tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Shilla hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua temannya yang tak pernah henti berdebat.

Selama perjalanan menuju sekolah, Via tak pernah berhenti berceloteh untuk sekedar menggoda Ify dengan tingkah konyolnya. Sesekali semburat merah terlihat diwajah Ify yang polos. Ify benar-benar dibuat malu oleh Via. Ia kini tak mengerti dengan debaran jantungnya yang tiba-tiba seperti pukulan drum dalam musik rock, cepat sekali.

Apa aku bener-bener suka ya sama Rio? Tanya Ify dalam hati. Namun, beberapa detik kemudian, ditepisnya perasaan aneh itu. Dia tak mau merasakan hal aneh diusia belia seperti ini.

“Ify, kamu suka kan sama Rio? Ayo ngaku! Wajah kamu udah semerah tomat tahu!” Via terus berulang kali mengucapkan hal itu, bahkan setelah sampai didepan pintu kelas. Ify jadi gugup sendiri, ia takut jika ada yang tidak sengaja mendengar celotehan Via. Jika itu terjadi, ia bisa dibully habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya.

“Gak Via, Tau ah! Aku mau piket dulu, kalau gak cepet-cepet takut di sembur sama kata-kata pedas Irva bye!” Ujar Ify secepat kilat meninggalkan Via yang memajukan bibir mungilnya bersenti-senti.

Jam belajar berlangsung begitu cepat, bel istirahat berdering diseluruh penjuru sekolah, sorak sorai anak-anak membahana, mereka sudah tak sabar ingin bebas dari sangkar menuju surganya sekolah. Kantin, merupakan tempat favorit setiap pelajar, tak sedikit dari mereka menghabiskan waktu istirahatnya dikantin dengan berbagai aktivitas. Ada yang bergosip ria, mengahbiskan uang jajan, bahkan tak jarang ada beberapa pelajar yang bermain permainan konyol. Seperti tiga pelajar ini, Ify, Via, dan Shilla. Mereka sedang bermain rumah-rumahan diatas meja kantin, masing-masing diantara mereka membawa boneka kertas yang akan dijadikan tokoh dalam cerita unik mereka. Bahkan, bukan hanya berbentuk manusia saja yang mereka bawa, tapi banyak juga bentuk-bentuk lain seperti tempat tidur, pakaian, lemari, dan masih banyak lagi. Sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba datang tiga orang lelaki yang biasa disebut gank jail, Rio, Gabriel, dan Cakka. Hanya dengan hitungan detik, mereka semua sudah kejar-kejaran satu sama lain.

“Rio, Iyel, Alvin berhenti, dasar biang rusuh. Awas aja kalau ketangkep, kita bakal bejek-bejek kalian semua!!” Teriak Ify sambil berusaha mengejar ketiga sosok lelaki tengil itu, tak jauh beda dengan Via dan Shilla yang berada beberapa meter dibelakangnya. Via berteriak-teriak tak jelas sambil berkomat-kamit melafalkan seluruh sumpah serapah yang ia pelajari dari kakeknya, sedangkan Shilla terlihat ngos-ngosan sambil terus berlari mensejajarkan langkahnya dengan kedua temannya yang lain.

Diujung koridor, ketiga lelaki tersebut berhenti, mereka menyerah. Apapun yang terjadi nanti, mereka tak akan lagi ambil pusing. Sedangkan Ify, Via dan Shilla bersiap-siap menyerbu ketiga lelaki tersebut.

“Iya, ampun fy, ampun..” ringis Rio. Ia, orang pertama yang mendapat serbuan gelitikan ganas dari Ify. Sedangkan Via dan Shilla hanya melingo kaget melihat kedua bocah itu berguling-guling diatas lantai.

“Kalian gak segalak Ify kan?” Tanya Cakka polos memperhatikan kedua gadis kecil dihadapannya yang hanya melongo kaget.

Shilla menggelengkan kepalanya begitu polos, sedangkan Via langsung berteriak menghampiri Gabriel, memukuli lelaki hitam manis itu sesadis-sadisnya.

Setelah perang dunia kecil itu berakhir, Ify, Rio, Via dan Gabriel hanya mampu menopang tubuhnya dengan mebungkukkan badan, mereka ngos-ngosan karena lawan mereka ternyata cukup tangguh.
Shilla dan Cakka hanya berpandangan beberapa detik lalu mengangkat bahu, tak mau terlalu ikut campur dengan apa yang terjadi.

“Fy, kok kamu ganas banget sih, merah-merah kan jadinya tangan aku” Ujar Rio memecah kebisuan diantara mereka semua

“Biarin, biar kamu gak jail lagi.” Ucap Ify acuh.

“Rio, tangan kamu merah banget” Ceplos Shilla sepolos-polosnya

“Biar aku obatin ya, sini tangan kamu” Lanjutnya lagi, sambil menopang tangan Rio dipangkuannya, mereka duduk berdua disebuah bangku kecil diujung koridor. Shilla mengambil plester Mickey mousenya dari kantong rok, lalu mulai mengobati luka Rio dengan telaten.

Ify dan Via cengo melihat kejadian yang beru saja terjadi, Via memaki-maki dalam hati, kenapa Shilla membantu anak itu? Dasar kelewat baik gumamnya sambil geleng-geleng kepala, sedangkan Ify mematung melihat adegan itu, kenapa darahnya berdesir cepat? Dan hatinya jadi tak karuan?

“Ye, Shilla berhasil jadi dokternya Rio” Teriakan itu membuat Ify dan Shilla terlonjak kaget dan segera memandang ganas kearah Shilla yang dibalas dengan cengiran lebar oleh Shilla.

“Shil, kok aku juga gak dikasih plester sih?” Tanya Gabriel dengan polos

“Yah, Iyel gak bilang dari tadi sih, plesternya kan jadi abis  sama Rio” Ujar Shilla

“Makasih peri cantik” Ujar Rio kalem sambil mengacak puncak kepala Shilla, yang dibalas oleh anggukan kecil dari gadis tersebut.

Lalu, dengan cepat Rio berdiri dan memandang sinis kearah Ify yang terlihat muram, ia melangkah melewati Ify sambil berbisik “Kamu terlalu galak kalau dideketin, gak kayak Shilla yang manis kayak bidadari, wlekk!!”. Setelah berkata seperti itu, Rio langsung mengomando teman-temannya untuk segera pergi dari tempat itu.

Ify tertegun mendengar penuturan Rio, jadi selama ini Rio berusaha mendekatinya? Oh, tidak Rio terlanjur tidak suka dengannya, dan sekarang ia yakin, Rio akan segera mendekati Shilla, bersiap-siaplah Ify, pasrahnya dalam hati.

“HEIII..!!” Via dan Shilla berteriak bersamaan, dan membuat Ify terbangun dari dunia hayalnya.

“Kayaknya aku salah deh Fy, Rio itu sukanya sama Shilla bukan sama kamu, hihi” Ceplos Via asal

“Via, jangan godain aku” Rengek Shilla dengan wajah yang semerah tomat. Ify hanya dapat menghembuskan nafasnya berulang kali, perasaannya terlambat.

“Ciyeee Shilla jadi peri cantiknya Rio, ciyee...” Via mulai gencar menggoda

“Ah, Via malu..” Shilla menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya

“Yuk ah kekelas, cuacanya kok tiba-tiba jadi panasya” Ujar Ify sambil melangkah pergi dari hadapan kedua teman karibnya.

Via dan Shilla hanya dapat mengikuti Ify sambil mengangkat kedua bahu mereka.

***

“Ify...!!!” Suara cempreng Via berhasil membuat seluruh memoriku buyar begitu saja, Aku menoleh mengikuti arah suara tersebut, diujung taman terlihat Via sedang berlari-lari kecil menghampiriku, tak berubah, ya Via tak berubah dari beberapa tahun yang lalu.

“Ngelamun mulu.. Mikirin si botak lagi ya??” Via menggodaku sambol mencolek dagu tirusku berulang-ulang

“Via apaan sih” Elakku, walau kenyataannya mukaku mulai panas, sepertinya semburat merah telah menghiasi pipiku tanpa berkompromi, ukh!!

“Ciyyee... yang malu-malu kucing”

“Ish udah ah, nanti kalo ada Shilla gimana?” Aku berusaha menghindari Via

“Makanya, kalau suka jangan dipendem mulu, keburu kecolongankan?? Galak sih” Cibir Via

“Via udah deh..” Kesalku sambil menutup buku diary, Via membuat mood menulisku menjadi jelek

“Patah hati kan lo?? Masa belom bisa move on sih Fy?? Kalau dulu waktu kecil..”

“Stop!!” potongku

“Sudahlah, mungkin ini memang keadaan yang harus aku terima, mencintai tanpa dicintai, dan bahkan orang yang aku cintai malah mencintai sahabatku. Ya, itu semua berawal dari diriku sendiri yang terlambat merasakan cinta, hihi” Aku tertawa geli merasakan kebodohan yang aku buat sendiri

Via melihatku dengan tatapan miris, ia menggenggam tanganku, berusaha menyalurkan tenaganya untukku lalu berbisik "Cinta itu datang tiba-tiba Fy, seperti hantu bahkan mungkin jelangkung. Datang tak diundang, pulangpun tak diantar”

Setelah ucapan asal Via itu, kami tertawa bersama, apa yang dikatakan Via memang benar, Cinta datang tiba-tiba dan tak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar