Sabtu, 15 Maret 2014

Apalah arti "Menunggu"

Aku buat cerpen nih, semoga siapapun yang baca bisa mengerti maksudnya.. haha,..
Ini gak tau Rify atau bukan, hanya kalian yg bisa menilai :)

“Gabriel….” teriak seorang gadis yang berada dijung koridor mall

Seorang pemuda yang sepertinya tengah mencari sesuatu itu menoleh pada sesosok gadis yang tadi meneriaki namanya, senyumannya terukir sempurna saat melihat siapa sosok gadis itu, entah kenapa ada perasaan asing yang menyelimuti hatinya. Ia merasa telah lama kehilangan sosok gadis manis itu Gabriael perlahan melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, menyapanya, menjabat tangannya, masih dengan senyuman yang terlihat memukau, dan tanpa ia sadari telah memberi efek yang besar pada gadis dihadapannya itu.

“Ify, gimana kabarmu?? Lama ya kita gak ketemu..”

“Hai, yel.. aku baik-baik aja, gimana kamu?? Kamu beda banget dari 10 tahun lalu, gak nyangka kita ketemu lagi disini..” Ify, gadis tersebut terlihat menahan nafasnya, dadanya berdesir hebat saat mendengar suara berat dan dalam itu.

“aku makin ganteng ya…? hhaaha…” Ucap Gabriel sambil tertawa lepas
Tawa itu, ada sesuatu yang menimbulkan gejolak aneh dalam perut Ify saat mendengar tawa yang keluar dari mulut seseorang yang telah lama tak pernah lagi ia temui.

“emmm,, narsisnya awet..!!” Hanya kata itu yang mampu Ify ucapkan, tubuhnya terlalu fokus menahan segala organ vital yang berada didalamnya agar dapat bekerja dengan normal seperti sebelumnya.

Ya Allah,, ingin sekali ku memeluk pujaan hatiku ini, mengucapkan kata rindu padanya,..Entah dari mana kata-kata itu terucap berulang kali didasar hatinya bagai doa yang mengalun merdu mengarapkan sesuatu yang tak mungkin dapat ia lakukan.

“fy,, baru aja aku mau ke rumah kamu..”Ujar Gabriel saat ia merasa Ify lebih diam dari sebelumnya, tidak seperti saat terakhir kali mereka bertemu. Ada apa dengannya? Tanya gabriel dalam hati.

“HAH..!!” Pekik Ify, seolah kaget dengan apa yang diutarakan Gabriel padanya.

“biasa aja kali,, kaget bener toh mukanya,, hhaaha…” Lagi-lagi Gabriel menertawakannya.

Ngapain?? Kenapa hati aku gak karuan begini,, kenapa rasa itu tak pernah hilang…Ify meracau dalam hati, hatinya gelisah, bahkan kegelisahan itu begitu kentara pada mimik mukanya yang tiba-tiba berubah tegang

“ngg… aku sih cuman mau ngasih surat undangan ini aja,,” ucap Gabriel sambil memberikan Ify sepucuk surat, Ify menerima begitu saja surat itu tanpa banyak berbicara. Padahal jantungnya sudah
berdetak begitu hebat, bagai pukulan drum yang sesekali menyesakkan.

Surat apa ini? Mungkinkah? Jangan sampai ya Tuhan,.. Jangan sampai ada berita buruk yang semakin menghancurlantahkan hatiku, aku tak ingin kehilangannya lagi setelah sekian lama tak bertemu, aku tahu aku memang egois, tapi bolehkah aku berharap? Walau aku sendiri tahu harapanku akan tertiup angin dalam sekejap waktu. Ify menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba seperti biasa, mencoba tenang walau hati tak berkata demikian, mencoba menguatkan hatinya yang tiba-tiba menegang saat perlahan dia membuka isi surat itu.

Pertunangan??? GABRIEL DAN ASHILLA..?????..

Benarkah?? Ingin sekali Ify berteriak..!!! kenapa Tuhan tak pernah berpihak padanya??? kenapa ini harus terjadi?? Sakit sekali rasanya, seseorang yang begituditunggu dari dulu, melepaskannya..
ternyata Gabriel tak pernah mengharapkannya,..

“hehe,, aku udah 2 tahun pacaran sama shilla, sorry ya udah lama aku gak ngasih kabar ke kamu..” gumam Gabriel santai tanpa memperdulikan perubahan ekspresi diwajah Ify, padahal ketegangan Ify begitu kentara.

Bahkan dia tak bisa membaca mataku. Hati Ify menangis mengetahui semuanya.

Ify mencoba tersenyum walau terasa begitu sulit, seseorang yang ia harapkan benar-benar akan pergi dari kehidupannya mungkin untuk selamanya, selamanya harapan hanyalah tinggal sebuah harapan, mengambang diatas langit, dan kini ia benar-benar terjatuh, tersungkur dari langit yang telah ia buat sendiri

“aku ikut senang,, ternyata Shilla yang dulu pernah kamu ceritakan akan jadi milikmu selamanya, selamat ya,.. kamu udah kasih tau temen-temen yang lain??” ucap Ify lirih. Gabriel menatapnya antusias

“belum,,rencananya aku baru aja mau kasih tau mereka, kamu adalah orang pertama yang denger berita bahagia ini..”

Ify membisu,, kamu tahu yel, kalau aku jugalah orang pertama yang kamu sakiti.. batin Ify menjerit karena tersiksa oleh ulahnya sendiri. Ify berusaha untuk tersenyum, mencoba tegar untuk menyembunyikan rasa sakit yang ada di hatinya ini.

“gimana kalau kita mengobrol disana saja sambil makan” ajak Gabriel sambil menunjuk cafe yang masih berada dalam mall

“oke, aku mau denger cerita kamu selama 10 tahun ini..” Ify berusaha bersikap seolah-olah orang yang paling bahagia saat mendengar berita ini

“terlalu banyak fy, butuh waktu 10 hari buat cerita sepanjang itu..”

“haha..” Mereka tertawa bersama, tawa yang berbeda, sang pemuda menampakkan wajahnya yang begitu ceria, sedangkan seorang gadis disampingnya menunjukkan luka itu, matanya terlihat begitu sendu. Ini yang namanya mencintai diam-diam, tak mampu berkata, tak mampu bertingkah lebih jauh yang akhirnya ia tertabrak oleh seseorang yang lain karena jalannya yang tak kentara, seseorang yang lain itulah yang berhasil merebut apa yang ia inginkan.

Meski aku masih merasapilu, namun aku tidak akan pernah menyianyiakan kesempatan emas ini untuk bersendagurau denganmu.. Ify mengucapkan kata-kata itu berulangkali dalam benaknya.

“sama siapa kamu kesini” Tanya Gabriel, sesaat setelah mereka duduk disebuah cafe yang ternyata adalah cafe kenangan untuk Ify. Di cafe inilah Ify menghabiskan waktunya untuk bersendagurau bersama temannya, bersama Gabriel disampingnya. Tapi itu dulu..

“aku sendiri aja, kalau kamu?” tanya Ify sambil menatap sebuah sofa yang dulu sering ia duduki.

“oh, iya aku lupa..!! aku kesini kan sama Shilla, kenapa aku bisa lupa” Gabriel menggerutu

“calon istri kok bisa lupa sih, PARAH..!!”

“entah lah, keasikkan ngobrol sama kamu kali.. hihi..”

“udah mau nikah juga masih bisa ngerayu orang.. inget Shilla bang..!!”

“hehe,, akhiran kali fy, udah lama gak ngerayu kamu..” jawabnya asal sambil mengeluarkan  sebuah ponsel dari saku celananya dan mulai menekan keypad yang terdapat di sana.

Ify menunggunya dalam diam, mungkin kali ini Gabriel sedang memberitahu kekasihnya yang sama sekali tak Ify kenal bagaimana perawakannya,, Ify menggunakan waktu menunggunya sambil memperhatikan wajah sosok pemuda dihadapannya, setiap lekuk Ify amati dengan seksama.

Dia telah berubah, terlihat begitu tampan dan dewasa. Ketampanannya tak pernah luntur oleh waktu, malah dia terlihat semakin tampan saja. Ohh,, rasa ini ternyata belum hilang dari benakku, aku masih sangat mencintainya, aku masih setia menunngunya menyatakan sebuah kata cinta yang tak kan pernah keluar dari mulutnya. Aku tahu ini adalah mimpi burukku, aku terlalu tinggi untuk bermimpi, aku terlalu kelewat imajinasi. Aku tahu inilah akibat dari perbuatanku, khayalanku kandas ditelan waktu, percuma saja ku menunggu bila dia tak pernah mencintaiku. Kegundahan yang setiap malam menyelimutiku tak ada gunanya sama sekali. Aku benar­-benar terjatuh, terhempas begitu saja ditanah yang keras dan kasar, memberikan luka, tepatnya dihati kecilku, luka yang menyayat bahkan sanggup mengeluarkan percikan darah, hatiku memberontak, meminta tolong siapapun yang mau mengobati luka itu.. namun tak ada yang mampu mendengar kata hatiku.tak ada yang sanggup.. semuanya mengabur dan menghilang begitu saja…

Tanpa Ify sadari air mata itu mengalir perlahan di pipinya, buru-buru Ify menghapusnya, jangan sampai Gabriel mengetahui ini semua. Jangan sampai Ify terlihat lemah di hadapannya..

“Ify..” panggil Gabriel tiba-tiba

“ya, yel ada apa??” ucap Ify sambil mengembangkan senyum

“mmmm… aku minta maaf ya..” Suara Gabriel terdengar ragu

“untuk??” Lipatan-lipatan itu terlihat begitu jelas didahi Ify, ia bingung.

“ah, tidak.. selama ini aku rasa aku banyak sekali berbuat salah padamu.. entahlah aku juga bingung sama perasaan ku sama kamu,” ucap Gabriel sambil menunduk

“maksudmu?? Kau sudah punya shilla yel,  aku…..” Suara Ify menggantung dilangit-langit

“Gabriel,,” ucap seseorang sambil menghampiri meja Ify bersama Gabriel,dia terlihat begitu cantik nan manis, aku yakin pasti dia lah pilihan Gabriel, ‘ASHILLA’

“eh, shill udah selesai.. maaf ya ninggalin soalnya bosen nunggu di sana, mm.. fy, kenalin ini shilla yang tadi aku ceritain sama kamu”

“Shilla..” Shilla memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ify, tangannya begitu putih, halus dan lembut tak ada lecet sedikitpun..

“Ify, teman se-SMPnya Iyel..”

“aku udah denger banyak soal kamu dari Iyel, kalau kamu sahabat baik iyel dari kecil..” Ujar Shilla sambil tersenyum manis.

Seketika Ify menatap mata elang Gabriel meminta penjelasan, namun Gabriel hanya membalasnya dengan senyum ramah.. Ify tidak tahu harus berkata apa, ia benar-benar membisu.. Dia menganggapku hanya sebagai sahabatkecil?? Oh, Tuhan..Batin Ify kembali berteriak. Ify merasakan perih berulang-ulang diulu hati, mengapa?? Seharusnya ia sadar, bahwa ia bukanlah pemegang tahta tertinggi di hati seorang Gabriel, ia seharusnya bersyukur karena ia masih dianggap, walau hanya sebatas sahabat kecil..

***

Rintik-rintik air hujan kini menemani malam yang sunyi ini. Langit yang kini berubah menjadi hitam pekat begitu menggambarkan suasana hati sesosok gadis yang kini berdiri disisi balkon kamarnya,  mencoba mencari ketenangan dengan memandangi langit yang terlihat kosong, tak ada satupun bintang yang berkerlip disana, begitu hampa bagaikan hatinya, yang pilu dan rapuh.

Kejadian beberapa waktu yang lalu terekam kembali dalam memorinya seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti mengiris hatinya, mencoba bertahan tapi tak sanggup, mencoba tersenyum namun yang ada kini malah isakan pedih, kenapa matanya tak dapat berkompromi, kenapa matanya mengeluarkan butiran-butiran air yang tak berguna, Inikah yang dinamakan patah hati, Ia sering merasakan sesak didada, namun ini yang paling perih selama hidupnya, dadanya memberontak, ingin rasanya berteriak, namun tak ada gunanya.

Gabriel, seorang pemuda yang sukses membuat jantungnya berdetak tak sesuai irama itu kemarin membuat kejutan yang menampar keras uluhatinya, seolah-seolah bumi berhenti berputar membiarkannya melihat kejadian itu dalam waktu yang cukup lama. Kejadian yang begitu meremas hatinya, meninggalkan luka yang amat perih direlung hati yang telah rapuh. Dengan wajah tak berdosanya Iyel memperlihatkan kemesraannya dihadapan gadis ini, susah payah gadis ini menahan dirinya agar air matanya tak turun mengalir dipipinya. Iyel sekarang bahagia dengan gadis idamannya. Ia kini memiliki bidadari cantik yang akan selalu menemaninya sepanjang waktu mungkin hingga akhir hayatnya.

Tak pernah terfikir dibenak Ify bahwa penantiannya selama ini berakhir dengan ironis. Menunggu dan menunggu dengan tak pasti selama beberapa tahun adalah hal yang sulit untuknya, menyianyiakan waktunya untuk melamunkan seseorang yang tak pernah sedikitpun melirik kearahnya. Ia terlalu bidoh membiarkan hatinya melambung tinggi diudara dengan secercah harapan yang tak mungkin kan terjadi. Ia terlalu hanyut kedalam cintanya sendiri, cinta yang hatinya saja yang mengetahui.

***

Surat undangan pernikahan itu kini berada digenggaman Ify, wajah gadis itu kini begitu datar dan dingin, tak ada lagi air mata yang mengalir dipipi mulusnya, mungkin dia lelah jika terus menyiksa dirinya sendiri. Matanya tajam mengarah pada jemarinya. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangnya, menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Kepala orang tersebut kemudian bersandar dibahu Ify tanpa meminta persetujuan dari sang pemilik. Ify hanya diam mematung, tak ada lagi pemberontakan yang ia biasa lakukan pada Rio. Kini Ify benar-benar membutuhkan Rio untuk menjadi sandaran dan penopangnya. Kasih sayang dan kehangatan yang diberikan Rio benar-benar begitu menyentuh relung hatinya yang tak berupa.

“Aku sayang kamu Fy,’ bisik Rio

Perlahan Rio melepaskan  dekapannya, lalu memegang erat bahu Ify, lantas membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya. Ditatapnya mata Ify dalam-dalam, mencari sesuatu disana, dan akhirnya ia menemukan luka dimata itu, dengan satu gerakan Rio langsung mendekap Ify kedalam pelukannya, membiarkan gadis itu bersandar pada dadanya yang bidang, berusaha menenangkannya, berusaha membantunya agar gadis itu tahu masih ada dia yang akan selalu menemaninya.

“Menangislah, jangan mematung seperti itu, aku takut dengan keadaanmu yang berubah dingin seperti ini, lebih baik kau keluarkan air matamu sepuas yang kau mau, aku akan selalu ada untukmu, disampingmu.” Ujar Rio lembut sambil membelai puncak kepala Ify dengan sayang, membiarkan gadis itu menumpahkan rasa sakitnya. Perlahan isak tangis itu mulai terdengar kembali, lebih keras dan menggema bersama dengan rintik hujan.

Ify menyadari, ini semua harus diakhiri, ia tersenyum sesaat setelah tangisnya berakhir dalam dekapan hangat seorang Mario yang ia tahu akan selalu menjaganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar