Kamis, 21 Agustus 2014

Meet again, I'm sorry


Cerpen randoman ala RFM :D



Hiruk pikuk disebuah pusat perbelanjaan tidak membuat dua gadis cantik yang kini sedang bersendagurau bersama memilah milih beberapa aksesoris disekelilingnya itu terganggu. Mereka tak henti-hentinya tertawa sambil mencoba berbagai pernak-pernik yang menurut keduanya itu menarik.



“Fy, nih sikuda berkuncir dan berponinya banyak banget, mau lo babat habis semua?” Tanya salah satu dari mereka. Via, seorang gadis chubby berambut sebahu itu melototkan matanya, padahal hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada ukuran matanya yang sipit.

“Pokoknya hari ini bakal gue gunain buat berburu! Susah nyari waktu senggang Via, kita kan sibuk” Ujar ify mengebu-gebu.. mereka berdua lalu kembali tertawa, mengingat kesibukan mereka yang semakin hari semakin bertambah saja.

“Traktir gue donk Fy, lo kan lagi berburu tuh pasti bawa uang banyak dong ya. Ayolah entar gue bantu deh pencarian lo” Rajuk Via sambil menaikturunkan kedua alisnya. Ify mendengus kesal, apa-apaan ini?
“Enak aja, yang ada lo ngambil jatah hasil berburu gue lagi” Gerutu Ify sambil mengerucutkan bibirnya yang merah.







“Ishh pelit!! Wle..” Via memeletkan lidahnya bermaksud memancing kekesalan Ify. Entah apa yang Via rasakan, dia selalu saja ingin melihat mimik muka Ify yang kini lebih ekspresif itu. Ada rasa senang tersendiri yang ia rasakan saat melihatnya.

“Via, awas lo ya..!!” Belum beberapa detik, usaha Via berhasil. Ify sudah berseru kesal karenanya. Dengan cepat Via berlari kearah toko sepatu yang berada disebelah toko aksesoris yang tadi sempat ia acak-acak. Namun saat via berlari, hampir saja Via tersandung oleh kakinya sendiri hingga menyebabkan ia tertangka oleh sahabatnya yang tengah dirundung kekasalan. Via meringis saat cubitan-cubitan besar mengenai lengannya.

“Kena lo, makanya jangan sok mau lari dari gue” Ujar Ify sambil terus melayangkan bebrapa cubitannya.

“Udah donk Fy, sakit tahu, gue tau gue canti, manis, kalem, baik hati tapi gak segitunya kali ngefans sama gue” Via berujar dengan beberapa selip kata yang membuat perut Ify mual.

Saat Via mau mengehentikan aktivitas sahabatnya, tiba-tiba sahabatnya itu diam seribu bahasa. Mulutnya menganga kaget, sepertinya ia melihat sesuatu yang mengejutkan dibelakang tubuh Via, tapi apa? Via bertanya-tanya dalam hati. Via dapat melihat Ify menahan nafasnya saat ada derap langkah kaki berjalan kearahnya. Belum sempat Via membalikkan tubuhnya, ada suara asing yang terdengar ditelinganya.

“Hallo Ify.. Lama kita gak ketemu” Ujar seorang pemuda dengan suara berat dan dalamnya itu.
Saat Via benar-benar telah membalikkan tubuhnya, ia mundur beberapa langkah agar dapat berdiri disamping Ify, gadis yang masih menahan nafasnya itu. Via jadi linglung sendiri, ada apa dengan sahabatnya. Dan didepannya kini ada 2 orang pemuda yang salah satu diantara mereka menyapa Ify dengan senyum yang cukup ehm manis. Tunggu, wajah dari salah satu diantara mereka sepertinya benar-benar ia kenal dengan baik. Bukannya itu..

“Gabriel..” Seru Via keras-keras, tak peduli dengan beberapa tatapan mata yang kini menuju kearahnya. Gabriel nampak semakin melebarkan senyumnya saat mendapati salah satu dari kedua gadis itu berseru girang memanggil namanya. Nampaknya sigadis chubby mampu mengingatnya. Tapi kenapa gadis tirus disampingnya masih tetap berdiam diri, bukannya Gabriel tadi menyapanya terlebih dahulu.

Belum sempat Ify membuka mulutnya untuk membalas sapaan dari pemuda didepannya ini, seseorang kembali menyebut namanya

“Kalian Ify sama Via ya?” Tanya seorang pemuda yang berdiri disamping Gabriel sambil tersenyum ramah, walau masih ada sedikit kekagetan dalam matanya.

“Iya, Kamu...” Via nampak berfikir mencari nama pemuda tersebut dalam memorinya.

“Rio kan?” Suara Ify terdengar lirih, ada rasa senang sekaligus rasa sedikit aneh yang menyayat hatinya. Bahkan dirinya saja tidak tahu apa yang benar-benar terjadi pada tubuhnya yang mulai bereaksi berlebihan. Mata Ify dan Rio saling menatap satu sama lain, ada rasa yang entahlah, tak dapat mereka jabarkan sendiri.

“Oh, iya aku baru inget. Lo Rio yang runner up Idola Cilik 3 itu kan? Maaf ya, abisnya lo agak emm beda, hehe” Via nyengir kuda saat mengingat nama tersebut, lalu tatapannya beralih pada gadis cantik disebelahnya. Kenapa dia tidak mengeluarkan suara? Hanya satu kaya tadi yang mampu ia keluarkan? Ify shock atau kenapa sih? Batin Via bingung melihat gadis disampingnya berdiam diri.

Gabriel yang memperhatikan merekapun jadi merasa aneh sendiri. Kenapa pada diem-dieman? Biasanya juga teriak-teriak? Wajah gue makin ganteng kali yak? Gabriel tersenyum geli mendengar kalimat yang berasal dari otaknya itu.

“Fy, lo tadi belom jawab sapaan gue, gak kangen lo sama abang ganteng?” Ujar Gabriel keki

“Eh, iya Gab, Hallo juga, lo makin ganteng” Ujar Ify sambil menampilkan muka paling polos yang ia punya.

Gabriel tertawa melihatnya, Ify masih tetap gadis kecil yang kelewat polos, sedangkan Via sudah ngakak dibuatnya, hanya Rio yang masih berdiam diri.

“Kita ke cafe yuk, ngobrol-ngobrol, gue kangen kalian berdua. Kalian gak sibuk kan” tanya Gabriel

“Gak donk, kita free hari ini. Tapi lo yang teraktir ya yel” Via memelas

“Sip deh, Udah lama juga gue gak teraktir loh” Gabriel tersenyum geli

“Yess!! Akhirnya dapet teraktiran juga, Lo kelewat pelit fy, haha..” Via berseru girang

“Kok gue?” Tanya Ify linglung

Lagi-lagi Via dan Gabriel kompak tertawa, sedangkan Rio hanya mengulum senyum geli memperhatikan mereka semua yang terlihat begitu akrab.

***

“Lo kemana aja yel? Gak pernah keliatan batang idungnya?” Tanya Via memulai pembicaraan

“Gue ada kok, kalian berdua aja yang terlalu sibuk, gue juga kadang-kadang suka metion Ify kok” Ujar 
Gabriel sesaat setelah meminum minuman yang tadi ia pesan

“Ify? Kok gue gak?” Protes Via

“Gue kan baik, wle..” Ify berujar sambil tersenyum geli

“Kalian nyebelin yah... Ish..!! Eh, yo kok lo bisa disini? Liburan atau..” Via sengaja mengantungkan kalimatnya sambil menyipitkan matanya yang telah sipit itu.

“Gue pindah ke Jakarta, udah lama kok” Jawab Rio, lagi-lagi tersenyum ramah, ia masih belum bisa beradaptasi dengan kedua gadis cantik didepannya.

“Rio sekarang sering maen sama gue sama Kiki, lo semua pada gak update sih” Ujar Gabriel sambil memandang remeh kearah Via, lagi-lagi Via hanya dapat mencibir ucapan pedas Gabriel itu.

Tanpa sepengetahuan yang lain, Ify mencuri-curi pandang kearah Rio, jujur saja, ia cukup ehm merindukan sosok itu yang kini dibalut kemeja putih yang sengaja digulung sampai lengan, pemuda itu makin tinggi saja, bahkan lebih tinggi dari Gabriel. Saat Ify akan mengalihkan pandangannya, Rio menatapnya sambil tersenyum. Beberapa detik Ify kembali menahan nafasnya, lalu segera membuang muka. Jujur saja ada rasa kecewa dalam hati Rio saat Ify memalingkan wajahnya itu untuk menatap Gabriel yang sedang bersendagurau dengan Via.

“Lo sakit gigi ya Fy?” Tanya Gabriel tiba-tiba, membuat Ify melonjak kaget mendengarnya, karena saat itu Ify sedang memperhatikan wajah manis Gabriel.

“Emang kenapa?” Tanya Ify saat setelah mampu mengendalikan diri.

“Lo sama Rio sama-sama diem aja dari tadi” ujar Gabriel sambil melirik kearah Rio

“Gue,, eh.. gak apa-apa kali” Ujar Ify terlihat sedikit gugup saat tiba-tiba ia disamakan dengan Rio.

“Gue gak tau harus ngomong apa yel” Ucap Rio terlihat keki, Gabriel menahan taawanya. Tak biasa Rio seperti ini. Tingkah tengilnya tiba-tiba hilang begitu saja dan itu terasa aneh menurut Gabriel.

Gue kangen sama dentingan piano elo Fy,gitu aja kok repot” Tiba-tiba ide nakal bersemayam di otak Gabriel

Ify terlihat memalingkan wajahnya yang bersemu merah, Via kembali ngakak tanpa malu, dan Rio benar-benar tak bisa bersuara.

“Gue denger-denger anak RFM udah ada ribuan loh. Banyak banget ya yang dukung hubungan kalian” Gabriel semakin gencar dengan ulahnya

“RFM? Apaan tuh yel” Via mengompori

“Itu, Rio Ify Maniac.. yang..”

“Gabriel..” desis Ify memotong ucapan Gabriel, lagi-lagi Via dan Gabriel hanya mampu tertawa. Sedangkan Rio tersenyum miris melihat itu semua.

“Udah punya pacar belom Fy? Betah banget lo jadi jones kayak cowok disamping gue” Gabriel kembali membuka suaranya

Ify melototkan matanya, bukan masalah jones yang membuat Ify kesal, tapi maksud perkataan Gabriel yang membuatnya keki. Ingin sekali Ify menyumpal mulut nakal itu dengan sepatunya. Dasar otak jail!! Ify bersungut-sungut dalam hati mengeluarkan segala sumpah serapah yang ia punya.



***

Perjalanan menuju rumah salah satu gadis yang kini berada dalam sebuah mobil itu dipenuhi dengan gelaktawa yang tak ada henti-hentinya. Gabriel-Sivia sepakat untuk melanjutkan acara reuni dadakan mereka di rumah Ify. Mumpung gak ada jadwal, itulah alasan kuat dari otak Via. Sedangkan Ify bersungut-sungut kesal karena acara berburunya diganggu begitu saja oleh kedua sahabatnya, ya walaupun ia juga merasa senang karena dapat bertemu kembali dengan Gabriel dan ehm Rio. Rio yang masih agak kaku mengiyakan saja ajakan teman-teman lamanya. Suara Via yang mendominasi didalam mobil. Ia tak henti-hentinya berceloteh mengenai kehidupan barunya.

“Eh, dirumah ada tante, kak Eizel sama Khalif gak Fy? Gue kangen maen sama Khalif nih.. Pasti sekarang dia udah gede” Ujar Gabriel sambil mengingat kembali bagaimana lucunya Khalif saat ia masih menjadi anak Idola Cilik.

“Dia makin aktif yel. Sekarang sih pasti udah bisa diajak ngomong, hehe.. Mama pasti ada, tapi kalo kak Eizel kuliah” Jawab Ify, wajahnya mulai kembali ceria.

“Kalo oma sehat? Duh, berapa tahun gue gak ketemu lo dan keluarga lo?” Gabriel kembali angkat bicara

“Sehat donk.. Lo sih sombong yel” Via menjawab dan memotong sesuatu yang akan diucapkan Ify, Ify kembali menggerutu sedangkan Via nyengir-nyengir tak jelas sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.

“Abisnya kalian ngomong buat berdua doank, hehe” Ucap Via nyablak

“Ah, lo mah Vi, gue gak sombong tapi kaliannya aja yang sekarang-sekarang ini lebih sibuk dan gak bisa diganggu. Kita kan mau kerumah Ify, ya wajarlah gue nanyanya ke Ify” Ucap Gabriel

“Lo kenal banget ya sama keluarga Ify?” Tiba-tiba Rio bertanya setelah sekian lama berdiamdiri.
Suasana hening sebentar, Rio mengerutkan keningnya. Apa dia barusan salah bicara? Atau terkesan cemburu? Mana mungkin..

Gabriel dan Sivia terlihat memicingkan mata, beberapa detik kemudian dua mata para jahil saling berkekdip. Ify sendiri masih bingung dengan maksud dari pertanyaan Rio.

“Wakakakk....” Suara tawa Via dan Iyel kembali memenuhi mobil. Ify hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang makin konyol saja.

“Yo, santai bro.....” Seru Gabriel disela tawanya. Rio mengaruk-garuk tengkuk kepalanya yang tak gatal, perasaan dia dari tadi selalu terlihat santai.


“Gue kenal sama keluarga Ify karena dulu gue sering banget bareng-bareng Ify di Idola Cilik, bahkan dari IC 1 nyampe IC 3, tapi tenang keluarga gue sama keluarga Ify gak ada rencana ngejodohin gue Ify kok” Jawaban asal Gabriel yang terakhir membuat mata Ify hampir keluar, bahkan Ify tak segan-segan langsung mendaratkan pukulannya pada pundak Gabriel.






“Haha... selow Fy, Yo. Gabriel-Ify mah kayak ade-kakak, iya gak bang?” Via angkat bicara lalu bertos ria dengan Gabriel.

Rio tak hentinya merasa heran dengan hubungan ketiga temannya. Mereka terlalu ehm akrab.

***

“Eh, ada Gabriel. Tumben kesini. Udah lama banget ya kita gak ketemu” Seru mama Gina saat melihat Gabriel yang berada diambang pintu. Gabriel segera membungkukkan sedikit badannya dan bersalaman dengan mama Gina.

“Makin ganteng aja kamu” Ucap mama Gina senang.

“Tante bisa aja, hehe”

“Sama siapa kesini?” Tanya mama Gina seraya melirik kearah Rio.

“Eh, ini Rio tan yang dulu jadi runner up IC 3” Ujar Gabriel sambil menarik lengan Rio

“Siang tante” Sapa Rio ramah

“Oh, iya tante inget. Ayo duduk dulu” mama Gina tersenyum ramah kearah Rio lalu melirik kearah Ify yang nampak salah tingkah dilirik seperti itu

Mampus gue.. gue kan suka kesel kalo ada yang ngomongin Rio, eh sekarang dia lagi jadi tamu dirumah gue lagi.. Ify membatin.

“Kita tukeran nomor HP dong” Gabriel memulai pembicaraan

“Sippoke!!” Via berseru sambil mengajak semuanya kedapur, karena aroma kue sudah menguar sampai ruang tamu.

***

“Gimana Fy setelah ini?” Via memulai pembicaraan setelah Gabriel dan Rio pamit pulang.

“Gimana apanya?” Tanya Ify bingung sambil merebahkan diri ditempat tidur.
Keduanya kini sudah berada dikamar Ify, Via berencana untuk menginap malam ini.

“lo sama Rio?” tanya Via santai

“ya.. gak gimana-gimana” Ify menyahut malas-malasan

“Lo kelewat gak suka atau gimana sih? Didepannya aja gugup gak karuan, dibelakangnya seolah lo gak peduli. Gue gak ngerti” Via berucap lirih

Ify bangun dari tidurnya, tumben-tumbenan sahabatnya ini berkata lirih, biasanya ia selalu cerewet. Sebenarnya Ify juga sedang memikirkan apa sebenarnya akar masalah ia dan Rio. Kenapa juga Ify jadi sensitif setiap bertemu dan mendengar nama Rio. Entahlah..

“Gue sendiri bingung Fy. Bahkan gue ngerasa aneh sama diri gue sendiri” Ify menundukkan kepalanya
Via langsung saja memeluk dan mengelus lembut rambut Ify, ia sangat mengerti bagaimana perasaan Ify. Ia tahu, dan sangat tahu.

***

Drrrt, drrrt..
Ponsel Ify bergetar saat ia sedang menyendiri sambil ngestalk para fansnya.

RIO
Tulisan yang terpampang begitu jelas dilayar ponselnya membuat dirinya jadi was-was. Untuk pertama kalinya Rio menelephonenya, catat!! RIO MENELEPHONENYA!!
Ify sedikit gemetar saat menekan tombol angkat dilayar ponsel. Oke Ify lo harus tenang.

“Halo” Suara Rio!

“Ya, ada apa?” Ify menjawab dengan suara kaku

“Maaf ya fy,” Rio menyahut dengan suara lirih, membuat Ify mengerutkan keningnya bingung

“Maaf?” tanya Ify tak mengerti

“Maaf karena gue udah jadi benalu dalam hidup lo. Maaf kalo selama ini gue sering ngerepotin lo melalui para fans gue, maaf buat lo gak nyaman setiap lo ngebuka semua sosmed lo, maaf kalo..”

“Rio..” Ucapan Rio terhenti saat Ify menyebut namanya dengan suara tertahan

“Maaf fy karena gue udah berani hadir dihidup lo” Rio memutuskan sambungannya. Ify menganga kaget mendengar semua ucapan Rio. Tak terasa air matanya mulai jatuh membasahi pipi. Apa ia terlalu berlebihan selama ini? Apa ia membuat Rio tertekan dengan semua tingkahnya? Padahal, padahal ia...



“Maafin aku yo..”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar