Senin, 18 Agustus 2014

When I See You ~ Part 2



Adakah yang mau baca? hehe..
Part 2

Melamun sambil memperhatikan berbagai macam tanaman dikebun belakang rumah, itulah rutinitas Ify akhir-akhir ini, mencari inspirasi dari berbagai jenis tanaman yang tumbuh secara bersamaan dalam jumlah banyak, bunga-bunga sedang mekar-mekarnya pekan ini ditambah warna-warna pada tanaman itu memberi kesan damai pada hati Ify yang selalu dirundung kesendirian. Pasalnya ia bagai menjalani hidup seorang diri beberapa hari ini,  teman-temannya semenjak ia merasakan duduk dibangku kelas sebelas itu pada menghilang dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan Via, sahabat karibnya yang selalu setia tak kunjung sembuh dengan influenza sialan itu. Disekolah kini terasa hampa, ia tak terlalu dekat dengan teman-teman sekelasnya karena mereka memang tak berlama-lama bercanda, banyak yang terlihat terlalu serius. Apalagi dikelasnya yang bagai kuburan bertambah seorang siswa yang terkenal dengan wajah esnya siapa lagi kalau bukan Rio, bagaimana dia mau bebas mengekspresikan diri jika selalu ditatap tajam oleh lelaki itu setiap dia berulah. Ify memang anak yang cukup kalem, tapi kalau berada ditempat sepi dia sulit mengendalikan diri, rasanya gatal kalau tidak berulah konyol.

“Huftt..” Ify menarik nafas dalam-dalam. Rasanya sesak sekali, tak ada yang menarik untuk dilakukan. Ify merasakan jenuh setengah mati.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap, mungkin mama atau Ray pikir Ify. Tapi kenapa juga harus mengendap-endap segala, mau bikin kaget apa? Percuma aku lagi badmood..!! Ify terus saja berkoar-koar tak menentu.

“Dorr!!” Pekik seseorang, seorang pemuda dengan suara bass dan agak berat, kok suranya seperti.. Tiba-tiba fikiran Ify terus berkecamuk, berkelana mencari nama dari pemilik suara itu. Suara yang sepertinya sudah lama ia kenal dan tak pernah lagi terdengar. Ini bukan suara Ray apalagi mama, terus siapa?

“IFY!!” Pekik pemuda itu sambil mengguncang-guncangkan bahu gadis manis tersebut.

“Hello!! Kok gak kaget sih? Kok ngelamun sih? Gini ya cara penyambutan lo terhadap sahabat lo yang udah 3 tahun pergi” Omel pemuda itu.

“CAKKA??” Kini Ify yang memekik karena kaget sambil melototkan matanya besar-besar. Ini benar-benar sebuah kejutan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Cakka.. Kamu beneran Cakka kan?? Cakka COME BACK.. huaaa,, lo Cakka aslikan??” Histeris Ify sambil loncat-loncat tidak karuan. Lalu menubruk tubuh pemuda didepannya. Cakka sekarang jauh lebih tinggi, dadanya lebih bidang dan lebih nyaman dipeluk, bahkan bulu-bulu halus disekitar dagunya mulai tumbuh. Cakka lebih ehm lebih tampan dari 3 tahun yang lalu.

“Eitss.. santai dong Fy, segininya apa lo kangen sama gue, ya emang sih gue kan orangnya ngangenin” Ujar Cakka disela-sela tawanya. Sedangkan Ify hanya membalasnya dengan pukulan ringan didepan dada pemuda itu.

“Narsis lo gak ilang-ilang. Lo kemana aja sih? Tega banget ninggalin gue sendiri. Gue gak ada temen maen tau gak sih dirumah, semenjak SMA emang ada Via, tapi sama Via beda gue jadi kelihatan lebih kalem dibanding dia yang hyperaktif itu, gak kayak sama lo, mungkin gue udah buat lo kayak boneka yang selalu jadi pelampiasan gue. Gue pasti gak bakal kehabisan kata. Lo tahu gak, tiap hari cuman dengerin omelan mama yang lebih ganas dari gue. Gak ada lagi yang ngajak gue keluar rumah, kayak dipenjara tahu gak, cuman bisa baca sama nonton TV doang. Pokoknya lo harus tanggung jawab udah ninggalin gue gitu aja” Cerocos Ify panjang lebar sambil menekuk muka dan mengkerucutkan bibirnya, ekspresi yang sudah lama tak ia keluarkan. Sedangkan Cakka sudah terbahak-bahak melihatnya apalagi dengan semua omelan yang dapat ia keluarkan hanya dengan satu tarikan nafas. Jujur saja Cakka cukup tersanjung dengan omelan Ify, ternyata dia mempunyai pengaruh besar terhadap gadis itu. Menurutnya Ify begitu menggemaskan, ia juga begitu rindu dengan sosok mungil yang bawel ini. Tak canggung-canggung Cakka mengacak pelan puncak kepala Ify, sehingga membuat gadis tersebut bersemu merah.

“Iya, iya maafin gue. Papa kan dulu pindah karena dinas, jadi gue juga mau gak mau harus ikut pindah. Sekarang gue tinggal lagi disini sama mama. Abisnya disana gue diomelin mulu sama mama, katanya bandellah inilah, itulah, kan disini ada lo Fy, jadi gue ada yang mantau, hehe..” Cengir Cakka memperlihatkan sederet giginya yang putih dan rapih.

“Aishh,, lo itu ya, ngapain aja disana? Pake dikatain bandel segala sama mama lo?” Seru Ify garang.

“Gue paling cuman pulang sore, itu aja sih” Ringis Cakka.

“Tapi gue tetep setia sama lo kok Fy lo tenang aja, gak ada orang yang bisa gantiin lo, apalagi gantiin pelukan lo yang gak pernah habis betahnya didada gue” Ucap Cakka nakal sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Seketika Ify merinding melihat senyum nakal Cakka itu, lama meninggalkannya ternyata otak Cakka semakin gila saja. Dan Ify baru menyadari kalau dia masih anteng dipelukan Cakka, dengan cepat Ify melepaskan pelukan itu walau ada rasa sedikit tak rela dalam benaknya. Tapi bisa-bisa Cakka akan berubah semakin gila saja.

“Kapan lo balik? Gak ngasih kabar sedikitpun lagi sama gue” Ify mulai dengan mengintrogasi, tak dipedulikannya tatapan nakal Cakka tadi.

“Baru tadi pagi sih, abisnya gue kan mau kasih kejutan Fy. Eh, eh.. gue satu sekolah sama elo loh.. hehe, pengennya sih satu kelas juga, terus satu tempat duduk lagi” Ujar Cakka sambil mengedipkan matanya sekali lagi.

“Mata lo kenapa Cak? Kelilipan” Tanya Ify polos.

“Ish.. lo Fy gak bisa diajak kompromi tau gak, mana manggil gue Cak, cak.. emang gue cicak apa” Rutuk Cakka.

Sebelum Ify mencerna semua ucapan Cakka tiba-tiba ada sesuatu yang mendarat dipipinya.

“Miss you IFY” Teriak Cakka sambil berlari kedalam rumah bermaksud menghindar dari amukan siempunya pipi.

“CAKKAAAAA.....” Teriak Ify geram. Dalam hati Ify mengeluarkan segala makiannya untuk lelaki tak tahu diri itu yang mencium pipinya sembarangan. Namun tak dapat dipungkiri ada rona merah dikedua pipinya.

“Ify lo kenapa sih? Aishhh..” Ujar Ify saat sadar ia tersenyum malu-malu lalu menepuk kedua pipinya menyingkirkan berbagai fikiran gila yang mendatanginya secara tiba-tiba.

***

“Hai, perkenalkan nama gue Cakka Kawekas Nuraga. Panggil aja gue Cakka” Sapa Cakka sambil menampilkan senyum termanisnya didepan kelas. Ify yang notabene duduk dibangku ke-2 melihat dengan jelas wajah Cakka yang mengerling nakal kearahnya. Wajah Ify lagi-lagi bersemu merah. Cakka gila! Umpatnya dalam hati sambil sesekali melirik teman-temannya yang menatap bingung kearahnya.

“Lo kenal dia Fy?” Bisik Via saat Cakka berjalan kearah bangku dibelakangnya. Duduk bersama Rio, Rio? Oh tidak..!! Ify merutuk dalam hati.

“Iyalah, dia sahabat kecil gue yang sering gue ceritain sama lo” Ujar Ify sesekali melirik Cakka yang sedang berkenalan dengan Rio. Kenapa wajah pemuda itu tidak berubah juga? Datar mulu kayak jalan tol.. Ify lagi-lagi menggerutu.

“Baiklah anak-anak ibu tinggal dulu. Hari ini Pak Duta tidak dapat masuk kelas, dikarenakan ada keperluan penting. Kalian baca-baca saja buku paketnya” Ucap Bu Ira, lalu pergi meninggalkan kelas yang kini berubah ramai dengan segala macam aktivitas. Entah apa pengaruhnya. Seminggu sebelum ini, kelas selalu saja sepi, tapi sekarang berbagai macam tingkah konyol mereka lakukan, mungkin kemarin-kemarin mereka belum terlalu akrab.

“Hai Kka” Sapa Via sambil membalikkan tubuhnya kearah belakang.

“Hai, lo Via ya?” Tanya Cakka sambil mengulurkan tangannya.

Setelah mereka bersalaman dengan senyum ramah, Ify berujar galak.

“Jangan terpengaruh sama senyum palsunya Via, dia nakalnya luar biasa” Celetuk ify sambil mendelik kearah Cakka.

“Ups!! Sicantik ngambek, hehe..” Cakka hanya nyengir melihat Ify yang berkomat-kamit tak jelas.
Rio memperhatikan wajah mereka satu-persatu. Sepertinya Ify dan Cakka sudah mengenal baik satu sama lain mereka terlihat akrab dan itu ehm mengganggu pemandangan Rio.

***

“Fy, Rio gak datar-datar banget tahu, buktinya dia bisa diajak bercanda sama gue” ujar Cakka sambil memasang safetybeltnya. Ify dan Cakka kini sedang berada didalam mobil Cakka, mereka berdua  pulang bersama karena sopir Ify mendadak sakit dan Via yang dijemput mamanya untuk. Ify merasa aneh dengan suasana didalam mobil, Cakka terlihat kalem dan dirinyapun tidak banyak berbicara, biasanya mereka pulang naik sepeda saat kecil, dan sekarang sepeda yang biasa mereka goes berubah menjadi sebuah mobil mewah. Terasa janggal dan agak berbeda....

Ify duduk dengan jengah, Cakka yang melihat itu akhirnya memutar music jazz, musik kesukaan Ify.

“Lo kayak cacing kepanasan tahu gak, santai aja kali. Kita kan cuman pulang bareng dimobil berdua, gak ada yang aneh” Ujar Cakka, lagi-lagi terdengar kalem.

“Suara lo kenapa berubah kalem Kka, gue jadi merinding” Ucap Ify polos, dan berhasil membuat Cakka menahan tawa karena berusaha memusatkan perhatian pada jalan.

“Emang gue dimata lo kayak gimana? Sesekali kalem gak ada masalah kan Fy? Lo ada-ada aja” Ujar Cakka sambil cekikikan.

“Lo kan orangnya jail, ngomong sana-sini, banyak tingkah, gak ada kalem-kalemnya. Dan sekarang lo mencatat sejarah itu diotak gue” Ucap Ify sambil memperhatikan wajah Cakka yang lurus memperhatikan jalan.

Nafas Ify lagi-lagi tercekat, kenapa setiap melihat wajah Cakka selalu saja ada rasa rindu yang mendalam, apa karena mereka jarang bertemu?

“Gue cuman lagi ingin berusaha dewasa Fy, kita udah gede bukan anak kecil yang ingusan lagi. Gue Cuma lagi belajar menempatkan posisi, bertingkah sesuai ala kadarnya. Gak semua orang bisa mengekspresikan keinginannya dengan melakukan sesuatu, gue juga bisa kali jadi orang ramah sekaligus konyol dalam waktu bersamaan, haha..” Cakka tertawa geli melihat ekspresi Ify yang melongo kaget. Baru kali ini Ify mendengar kata-kata bijak Cakka. Ternyata Cakka sudah bisa berpikir dewasa.

***

Rio melamun seorang diri, ia duduk di gazebo belakang rumahnya sambil menatap kerlap-kerlip bintang dilangit. Dadanya kembali bergerumuh mengingat suasana kelas yang hari ini tiba-tiba berubah jadi panas, didepan matanya terlihat dengan jelas seorang gadis berwajah tirus dengan seorang pemuda yang menjadi anggota baru dikelas sedang bersendagurau bersama sesekali pemuda itu mengacak rambut sang gadis dengan sayang. Kelakuan mereka membuatnya gila. Wajah Rio benar-benar berubah seperti es kutub. Dingin!

Rio mengacak rambutnya frustasi lalu memejamkan matanya. Ada apa dengannya? Bukankah ia sering melihat adegan itu? Tapi kenapa rasanya sakit saat gadis tirus itu yang melakukannya? Ify, satu nama namun mampu memberikannya efek yang luar biasa besar. Tingkah konyolnya itu ternyata mampu membuatnya tersenyum miris, mengingatkannya pada seseorang diluar sana yang entah dimana keberadaannya. Yah, Rio mengakui bahwa ia telah berubah, senyum ceria itu hilang dari bibirnya. Dan itu jujur saja membuatnya tersiksa karena selalu terbayang-bayangi masa lalu yang terus menyerangnya.

***

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar