Selasa, 02 Februari 2016

Tarian Pena

Naskah Teater pertama yang aku buat. Setelah hampir setahun keluar dari dunia teater yang aku geluti selama ini, ternyata rasanya berbeda. Euphoria yang selalu aku rasakan tiap kali bermain di panggung dan berlatih setiap waktu itu hilang tanpa jejak. Pertama kalinya aku merindukan dunia 'lama'ku. Kegiatan yang akhir-akhir ini aku jalani sama sekali tidak membekas, aku seolah menjadi robot yang memaksakan diri untuk bergerak. Aku rindu 'masalalu'ku yang rumit itu, aku ingin kembali.....



TARIAN PENA

Kayla hidup dalam sebuah lingkaran yang bernama organisasi. Sepulang sekolah hingga larut malam ia tidak pernah meninggalkan basecamp tempatnya berkumpul dengan teman-teman satu organisasinya. Sekedar menghilangkan penat atau memang bekerja dengan keras disana. Ia senang dengan dunia tulis menulis, hampir semua tulisannya diterima dengan baik dimajalah sekolah atau bahkan luar sekolah sekalipun. Hingga suatu hari ibunya menemukan kamarnya kosong pada jam yang seharusnya setiap penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya. Saat Kayla pulang menuju rumahnya, ia melihat ibunya tengah berdiri kaku di depan balkon kamarnya sendiri sambil menatapnya tajam seolah ia telah melakukan kesalahan fatal. Bulu kuduknya berdiri otomatis saat langkah demi langkah ia tuju kearah gerbang pintu rumah. Tubuhnya bergetar hebat melihat langkah kaki ibunya yang begitu pelan saat menuruni tangga namun masih menatapnya tajam tanpa berkedip sekalipun. Ia membuka pintu gerbang perlahan dan tak lagi melanjutkan langkahnya karena Ibunya sudah berdiri tepat dihadapannya sambil bersedekap. Ia tersentak dan mundur beberapa langkah oleh satu gerakan dari tangan Ibunya. Dadanya berdegup kencang melihat sabuk hitam mengkilap kini sudah bertengger manis pada kedua tangan Ibunya. Matanya ia pejam erat-erat saat tubuhnya terhuyung karena tarikan kasar dari tangan lembut bak sutra Ibunya. Ia diam tanpa suara menahan sakit yang terus mendera. Biarlah, apapun alasannya ibunya tak akan pernah mengerti. Akankah ada hari dimana ia tak lagi bisu? Hari yang hanya ia anggap sebagai secercah harapan yang tak akan mungkin terjadi.

BABAK 1

Adegan 1

Dalam sebuah ruangan tertutup mengalun sebuah musik lawas dari radio yang bertengger di atas meja kecil. Kayla duduk sambil terus menulis pada sebuah buku ditengah ruangan seorangdiri sedangkan teman-temannya tengah berceloteh di pojok yang lain.

BELLA
Res, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tertangkap basah tengah mencuri?

RESA
Memang kamu mencuri? (bertampang bodoh)

BELLA
Seandainya Resa, pakai telingamu dengan baik!

RESA
Aku akan diam kalau memang aku salah.

KAYLA
Kalau kamu benar? (tanpa menoleh dan tetap fokus pada bukunya)

RESA
Benar dalam hal apa? Dimana-mana mencuri itu salah. Tidak ada namanya mencuri karena kebenaran.

KAYLA
Kalau kamu dipukuli? Apakah kamu masih berniat untuk tutup mulut dan tidak memberi penjelasan apa yang sebenarnya telah terjadi?

RESA
Kalau itu berdampak baik mungkin aku akan melakukannya.
Kayla berhenti menorehkan tinta penanya, ia diam terpaku lalu menoleh pada Resa yang sekarang tengah tertawa lebar. Ia tersenyum sinis dan memandang Resa tajam.

Adegan 2

Pintu terbuka dengan suara keras, lalu muncul seorang lelaki tambun bernama Oji sambil terengah-engah. Ia bertepuk tangan heboh berusaha mengalihkan perhatian teman-temannya yang masih saja berkutat dengan aktivitasnya tanpa sekalipun menoleh padanya.

OJI
Widi, matikan radionya cepat (Sambil berteriak)

Suara kembali sepi senyap, Oji menatap satu persatu teman-temannya yang kini telah memperhatikannya dengan malas.

OJI
Pak satpam akan datang dalam waktu 3 menit.

WIDI
Dari mana kau tahu?

OJI
Sembunyi atau kalian akan menyesal.

KAYLA
Kunci pintunya bodoh!

Tak lebih dalam waktu satu menit semua personel dalam ruangan itu berhamburan untuk bersembunyi, ada yang masuk dalam sebuah lemari, menunduk dibawah meja, berdiri dibelakang gorden, dan lain sebagainya. Sedangkan Kayla cepat cepat memakai jubah putihnya dan berdiri didepan lemari tempat anak-anak bersembunyi.
Pintu terbuka oleh seorang satpam yang dimaksud Oji, Satpam itu membawa senter yang menyilaukan. Ia mengedarkan senternya keseluruh ruangan hingga berhenti di satu titik tempat Kayla berdiri dengan jubahnya.

Kayla
Hahahaha (Tertawa seram)

SATPAM
Si..si..a..pa kau?

KAYLA
Aku? Haahahaa (kembali tertawa)

SATPAM
Ha...a....

KAYLA
PERGI BODOH (berteriak sambil menatap tajam dan melangkah satu langkah kedepan)
Satpam itu tersentak lalu mundur beberapa langkah. Tubuhnya semakin gemetar kala mendengar gelas pecah dari dekat jendela. Ia merasakan celananya basah lalu kemudian lari terbirit-birit sambil berteriak heboh.

Semua anak
HAHAHA (Tertawa lepas)

KAYLA
DIAM SEMUA!! ATAU AKU BUNUH KALIAN SATU PERSATU
Kayla membalikkan tubuhnya dan menolehkan matanya kepada Resa yang tengah berdiri kaku.

KAYLA
Kalian, pulang sekarang juga atau ucapanku akan menjadi nyata dan kau (menunjuk Resa) Jangan berani untuk pulang sendiri, pulanglah dengan Bella.

Satu persatu dari mereka berjalan melewati Kayla dan meninggalkannya seorang diri. Musik dari radio kembali beralun.

KAYLA
ARGHHHHHH (Berteriak lalu menangis)

BABAK 2

Adegan 1

Didalam sebuah kamar, seorang wanita paruh bayah berjalan mondar-mandir mencari seorang gadis yang seharusnya telah terlelap diatas kasurnya.

IBU
Kemana anak tolol itu tengah malam begini? Sebulan aku tinggalkan dia, dengan beraninya dia melanggar perintah? Kamu tidak akan pernah lepas dariku bodoh.

Ibu berjalan menuju sebuah papan kecil dan menuliskan pelanggaran untuk kesekian kalinya kembali. Tertulis “Cambukan sabuk” berwarna merah menyala pada papan itu. Ia tertawa pelan melihat tulisannya sendiri.

BABAk 3

Kayla berjalan terseok menuju rumahnya. Ia memegang kepalanya sendiri sambil meringis pelan. Sesampainya didepan gerbang, ia mendongak kearah balkon kamarnya yang terbuka lebar. Disana, tepat diujung besi penyanggah Ibunya tengah menatap tajam sambil bersedekap. Air muka Kayla berubah, ia membalas tatapan Ibunya tanpa ekspresi. Matanya ia pejamkan erat-erat saat perlahan ia membuka pintu gerbang. Masih terdengar dengan jelas suara langkah kaki Ibunya melangkah. Ia menunggu, dan tanpa aba-aba badannya terhuyung kebelakang oleh satu cambukan keras dari sabuk yang bertengger ditangan Ibunya. Tubuhnya ditarik paksa tanpa penolakan.

IBU
Dasar gadis liar pembawa masalah! Kamu tak tahu diuntung. Sudah kupercakayan menjaga rumah malah berkeliaran. Bodoh!

KAYLA
Ahh (menangis)

IBU
Dimana kamu menulis surat-surat untuk ayah bodohmu itu? 3 hari kamu tidak mengirimnya pada saya, keterlaluan sekali.

KAYLA
Sa...sa...kit

IBU
Jawab gadis bodoh! KAMU BISU?

KAYLA
Ber..hen..ti.. berhenti pukul aku Ibu

IBU
IBU KATAMU? Ibumu sudah mati! Bangun kamu, BANGUN BODOH!

KAYLA
Ampun, ampun (menangis)

IBU
Mana surat-surat itu?  Aku tanya dari tadi dan kamu menangis tak karuan seperti itu? Pantas saja Ibumu mati karena melahirkanmu. Tangisanmu merusak gendang telinga manusia. Dasar pembunuh! Kamu yang telah membunuh Ibumu sendiri, kamu itu pembunuh! PEMBUNUH! PEMBUNUH! (mencambuk Kayla dengan brutal)

KAYLA
AKU BUKAN PEMBUNUH! ARGhHH... (Berteriak)

IBU
Ibumu mati karena melahirkanmu. Aku kehilangan kakak karena kamu. Kamu itu merusak segalanya. Kamu itu PEMBUNUH!

KAYLA
Diam... diam... berhenti... (menangis)

IBU
Sekalinya menjadi pembunuh maka selamanya akan menjadi pembunuh.

KAYLA
ARGHHHHH

Ibu itu seketika diam, lalu terhuyung kedepan menimpa badan Kayla saat satu tusukan itu mengenai perutnya. Kayla terengah-engah, mencabut pisau tajamnya lalu melemparkannya asal. Ia menjauhkan diri dari tubuh yang sudah terbujur kaku penuh darah itu. Tubuhnya bergetar hebatlalu ia berteriak-teriak seperti kesetanan.

IBU
Kamu benar-benar pem..bu..nuh

KAYLA
Ya, aku pembunuh! Aku PEMBUNUH (menangis sambil tertawa pilu)
Kamu yang membuat aku menjadi pembunuh atau bahkan aku memang terlahir menjadi pembunuh.

Kayla menyeret langkahnya menuju genangan darah lalu mencuci pena kesayangannya dengan darah itu, ia kembali berjalan menuju papan yang sebelumnya ditulis oleh tinta merah oleh wanita tadi. Tertulis disana “MISSION COMPLETED”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar