Senin, 02 Mei 2016

Akhir Cerita Kita

Lini masamu terlalu jauh untuk ku gapai dengan utuh. Lagi-lagi hal yang sama terjadi pada salah satu organ vitalku. Aku yang berusaha berpaling dan tak mau peduli hanyalah ucap yang sia-sia. Nyatanya aku tau segalanya tentangmu. Bukan karena aku mengenalmu sebagai orang terdekatku tapi aku mnegenalmu sebagai orang yang hadir dalam kehidupanku tanpa jasadmu. Kamu menjadi bayang dalam mimpi, menjadi bunga tidur, dan meracuni otakku dengan segala kebodohanku. Aku bukan lah siapa-siapa untukmu. Tapi rasanya aku sudah mengenalmu terlalu jauh. Aku merasakan getaran karenamu, merasakan nafas yang tercekat itu juga karenamu, merasakan kaki yang lemas dan tak mampu lagi menopang tubuhku juga karenamu. Semua karenamu. Hari-hari yang kulalai sesaat lalu kembali menyadarkanku, Semua yang kulakukan hanyalah sebuah fantasi yang dengan senang hati mengelabuiku, kamu hadir dalam bentuk yang serupa dan terlampau sempurna dalam ingatanku, tak ada mata yang melihat puas, tak ada tangan untuk sekedar menyentuh, tak ada hidung untuk merasakan kehadiranmu. Semuanya abu, aku terperosok terlalu dalam untuk mengenalmu. Akhirnya dalam penantian yang tak masuk akal ini, aku merasakan tubuhku terjatuh tanpa parasut. Kamu benar-benar telah menghilang dari kehidupanku, tak lagi berputar-putar indah dalam neuronku, tak lagi menghentak jantungku dengan pacuan yang teramat menyenangkan. Kamu hilang dengan semua egomu. Kamu menjadi nyata dengan pasangan sesungguhmu, dengan orang yang kau beri dukungan dalam bentuk yang tersirat dan tak pernah kuketahui. Kamu benar-benar ada saat bersamanya, menjadi sangat nyata saat kulihat senyum dalam frame penuh warna. Kamu hidup dan aku perlahan mulai mati. Semua sel dalam tubuhku rasanya tak lagi berfungsi. Aku kalah, dan kamu dengan sangat senang hati telah mengalahkanku. Aku hanya ingin mengucapkan maaf karenamu. Karena semua tingkah dan degup jantungku. Aku minta maaf atas semua kesalahan dalam tubuhku karena telah mengganggumu. Maafkan aku yang mengusikmu dengan tak sopan mengagumimu. Maafkan aku yang berparas buruk, maafkan aku yang terlampau kaku. Maafkan waktuku yang penuh dengan senyum dan matamu. Aku akan berusaha dengan semampuku untuk pergi dari semua hal tentangmu. Aku pamit, dari bayangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar