Kamis, 02 Juni 2016

Dear 'Teman Hidup'ku

Hidup memang penuh teka-teki, karenanya aku merasa seperti melambung terlalu jauh di awan, kemampuanku yang tak seberapa tak pernah bisa menerka apa yang akan terjadi setelah hari ini. Apakah aku masih bisa terus mengepakkan sayap dengan tenang ataukah terluka dan jatuh begitu saja di lembah tak berpenghuni?

Satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, semuanya berlalu begitu saja. Seolah lupa dengan pembiaran yang terjadi, daguku terangkat angkuh dan membuat semuanya terlampau menyedihkan dari yang pernah kupikirkan. Hidupku akhirnya tak lagi sama.

Bolehkah jika aku berharap untuk bisa mengendalikan diri dan memulai semua dari awal? Aku menyesal. sungguh. Untuk waktu yang tak sedikit telah kulewati sia-sia, untuk pemberontakan jiwa nakal yang mengganggap diri tersiksa, untuk seorang teman, untuk semua kebohongan. Aku bukan aku yang kini menyeringai tak peduli. Aku merasa aku telah mati untuk waktu yang hanya Tuhan yang tahu, karena akupun ternyata tak pernah tahu.

Hai temanku, sahabatku -jika memang kalian menganggapku sebagai sahabat- percayalah karena aku telah lama berbohong dan menuai luka. Aku tak ingin satupun dari  kalian menganggapku sebagai teman dekat? Karena nyatanya aku tak kan pernah memiliki kata itu untuk waktu yang lama. Aku sangat sadar akan hal itu.

Mereka mungkin saja bersorak kegirangan karena aku mengaku, karena apik abu itu telah kembali. Tapi dari sudut terdalam yang pernah kutahu, disana ada raungan menyakitkan karena akhirnya mampu melepas, dari bayangan yang menyenangkan sekaligus menyayat....luka? Mereka benar aku, aku tak lebih dari atom yang melebur karena tak mampu bersama? Oh sudahlah, sampai jumpa untuk waktu yang lama dengan atom itu. Aku akan sangat merindukan kebodohanku. Satu yang perlu semua orang tau, semua yang pernah mengenalku, aku minta maaf untuk semua kekacauanku, selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar