Rabu, 08 Juni 2016

Feature - Mahasiswa Asing

Peluh sebesar biji jagung menandakan kelelahan yang teramat sangat. Bukan lelah fisik, karena semua mahasiswa yang kini tengah berada di sebuah ruangan ber-ac itu tidak juga beranjak dari duduknya sejak satu jam yang lalu. Surufi Bula, mahasiswa Fakultas Dakwah angkatan 2015 yang berasal dari negara tetangga, Thailand sebutannya. Laki-laki itu terus saja berbisik-bisik dengan teman senegaranya dikursi terdepan, terdengar ia tengah berbicara menggunakan bahasa kebangsaannya sendiri.

Saat ditemui seusai pembelajaran, perbincangan santaipun dimulai dengan tanggapan mereka tentang bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia itu mudah di pahami karena itulah saya bisa belajar sendiri,” ujar Surufi yang sebenarnya masih menggunakan kamus di ponsel ketika diajak bicara. Nasafi sendiri yang mempunyai kerabat disini mengaku belum terlalu mahir menggunakan bahasa Indonesia. Menurutnya, malah Surufi yang memiliki kosakata lebih banyak dari dirinya. “Teman-teman kalau bicara dengan saya terlalu cepat. Saya jadinya hanya bisa mengangguk-angguk saja,” ungkap mereka berdua sambil tersenyum malu. Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan menjadi mata kuliah tersulit untuk mereka pahami karena sebelumnya tidak pernah belajar mengenai sejarah Indonesia. Siapa yang tidak pusing terlebih saat tiba-tiba diajarkan mengenai konstitusi dan hukum dari negara orang, negara sendiri saja belum tentu dikuasai.

Parihat, salah satu Dosen Dakwah yang ditemui saat koridor Ranggagading telah sepi mengaku selalu menekankan anak didiknya terutama yang berwarga negara asing untuk membaca koran setiap hari, hal tersebut bukan hanya menambah kosa kata tapi juga turut menambah wawasan. Terkadang beberapa mahasiswa itu sering tertawa sendiri saat ia tengah menjelaskan materi di depan kelas, namun ia tak ambil pusing karena menurutnya mungkin saja ada kesamaan kata namun berbeda makna, bisa saja menurut mereka kata tersebut merupakan kata yang cukup lucu. “Saya sendiri tidak begitu sulit mengajar mereka karena adanya kesadaran dalam diri mereka sendiri untuk konsultasi,” jelasnya saat ditanyai kesulitan apa yang didapat dalam mengajar mahasiswa asing.


Sebagai mahasiswa pribumi, membantu mahasiswa yang kesulitan dalam berbahasa merupakan kewajiban. “Usahakan agar mereka betah di Indonesia tertutama di lingkungan Unisba,” saran wanita tersebut. Sebagai tuan rumah, mengajarkan bahasa dan budaya yang baik adalah hal yang seharusnya patut dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar