Sabtu, 11 Juni 2016

Melawan Darah

Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-AE6zgPP8Hl8/Tn1BRskNRvI/AAAAAAAAAD4/JVXpQjy8T1o/s1600/donor-darah-bermanfaat.jpg


“Darah!” Aku memekik sekencang-kencangnya tiap kali melihat cairan merah kental itu mengalir keluar dari pori-pori kulit seseorang. Bukan trauma, hanya takut dan ngeri karena sedari kecil sering ditakut-takuti tentang darah dan hantu oleh anak tetangga yang sering ku panggil ‘kakak’. Jika hanya beberapa tetes aku bisa mengerti tapi jika sudah terlalu banyak rasanya aku lebih baik lari untuk menyelamatkan penglihatanku agar tidak lagi membuat sekujur tubuhku gemetar saat melihatnya. Memang aneh dan sangat menyebalkan, tapi aku sama sekali tidak tahu penyebab akan hal itu.

Cita-citaku saat ditanya oleh guru TK adalah menjadi seorang dokter. Aku berfikir dokter adalah manusia baik hati yang dengan sigap menolong orang-orang sakit. Saat kecil, aku seringkali membeli mainan yang berhubungan dengan peralatan dokter seperti stetoskop, masker, suntikan, plester dan masih banyak lagi. Kakekku bahkan memberikanku stetoskop asli yang membuat mataku berbinar dan aku tanpa malu bersorak girang sembari bertepuktangan, masa kecil yang benar-benar menyenangkan. Sayangnya setiapkali aku bermain di rumah tetangga, kakakku sering menakutiku tentang hantu dan darah. Hal itu tak jarang membuatku memekik ketakutan dan aku menyadari satu hal yang sangat memalukan, aku bertransformasi menjadi si’penakut menyebalkan’.

“Hayoloh, kalau kamu jadi dokter kamu bakal ketemu sama mayat yang berubah jadi hantu. Dokter kan wajib masuk ruangan mayat, kamu juga bakal ngelihat darah tiap hari. Bayangin, darahnya banyak teh!”

“Nenek kakak bandel!” Seruku marah saat lagi-lagi kakak menakutiku dengan bualannya.

Setiap hari, teror dari kakakku membuat aku menyesal telah memanggilnya kakak. Aku menjadi anak yang penakut akut, tidak mau lagi bercita-cita menjadi dokter dan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari darah. Aku menyesal, karena setelah itu aku menjadi anak yang sulit bersosialisasi dan terkenal sebagai gadis ‘kalem’. Tapi tetap saja, aku tak pandai berdiam diri jika sudah bertemu dengan teman-teman yang dekat denganku. Alhasil, tingkahku menjadi aneh menurut penilaian beberapa orang.

Semenjak memasuki bangku SMP, aku menjadi gadis aktif di sekolah. Aku mengikuti banyak sekali ekstrakurikuler diantaranya pramuka, paskibra, paduan suara, dan PMR! Aku tak menyangka akhirnya saat SMP aku memberanikan diri menjadi anggota PMR, setidaknya aku pernah menjadi dokter kecil dan turut membantu guru merawat anak-anak yang sakit saat upacara berlangsung. Aku tidak pernah melihat darah dari tubuh seseorang, hal itu membuatku bernafas lega karena PMR memang tidak menolong orang-orang parah dan hanya melakukan pertolongan pertama saja itupun tidak terlalu berat. Lambat laun, persepsi tentang darah yang menyeramkan sudah kukubur dalam-dalam oleh keberanianku. Walaupun tidak sepenuhnya berani saat melihat darah, hanya saja tubuhku tidak lagi gemetar dan itu menjadi kemajuan yang sangat baik menurutku.

Aku selalu iri jika melihat orang-orang yang bisa menolong sesamanya dengan mendonorkan darahnya, karena aku masih belum bisa melakukan hal itu. Darah menjadi alasan paling menyebalkan pula saat aku menentukan cita-cita, mama melarangku melanjutkan studi yang berbau kesehatan, katanya anak penakut sepertiku tidak cocok dengan itu. Aku menerima saja kritik dari keluargaku karena semua yang diucapkan oleh mereka memang benar adanya. Aku mengubur dalam-dalam cita-citaku, toh menolong sesama bukan hanya dilakukan oleh dokter saja, membantu teman yang tengah kesulitan juga termasuk menolong dan perbuatan yang mulia, kan?

Semenjak menjadi anggota PMR di SMP, tak jarang aku mengunjungi PMI cabang di  kotaku dan belajar tentang kepalangmerahan disana. Rasanya senang sekali saat berhubungan dengan para anggota PMI, mereka ramah dan siap sedia menolong sesama tanpa pamrih. Aku sempat diajak untuk donor darah tapi dengan cepat aku menolaknya hanya dengan alasan takut. Aku menyesal, karena saat itu mereka menjelaskan bahwa setetes darah saja begitu berharga dan dapat menolong nyawa manusia. Mereka begitu bersemangat saat mengucapkan slogan “Setetes darah anda nyawa bagi sesama”. Rasanya aku ingin menangis saat tak bisa berpartisipasi untuk mendonorkan setetes saja darah yang mengalir ditubuhku. Saat itu juga, aku terus memupuk keberanian dalam diri untuk tak takut lagi dengan darah.

Waktu berlalu begitu saja, kini aku sudah duduk dibangku kuliah dan tidak pernah lagi berhubungan dengan PMI. Suatu waktu, aku mengadakan sebuah acara dan mengundang PMI untuk acara donor darah. Sayangnya, saat aku sudah berani donor darah aku tidak diperbolehkan melakukannya karena beberapa alasan dari anggota PMI. Namun, itu semua tidak menyurutkan semangatku, semoga saja dilain kesempatan aku bisa turut serta dalam acara donor darah lagi, berseru lantang tidak takut darah dan menolong nyawa orang banyak dengan darah yang mengalir ditubuhku. Semoga, semoga waktu itu akan datang, aku sangat berharap saat itu segera tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar