Minggu, 19 Juni 2016

When I See You -Part 4-

Suasana gaduh didalam kelas tak dihiraukan oleh Ify, ia sibuk memikirkan misi pertamanya untuk mencari tahu sosok pria dingin berwajah datar itu. Dengan gelisah tangannya memainkan pensil tak berdosa dengan prilaku keji. Otaknya  sibuk bekerja sehingga berhasil membuat beberapa lipatan tak menentu didahi. Sudahlah, dia menyerah.. suasana disini benar-benar tidak membantunya, berisik!! Saat ia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kelas, ternyata suasananya lebih ekstrem dari hari kemarin, pantas saja otaknya terganggu. Ify dapat melihat beberapa teman sekelasnya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang berlari-lari tak jelas sambil saling melempar topi kebanggaan sekolah, ada yang berkaca ria sambil menebalkan bedak diwajah, ada yang makan, ngobrol, bahkan sambil mendengarkan musik. Yang lebih aneh adalah Deva, dia berkreasi dengan dasinya membuat bando bahkan pita yang ia pakai sendiri sambil berfoto ria dengan teman sesama stressnya, Ray! Kegilaan tak hanya sampai disitu, bahkan ada saja yang melakukan konser dangdut didepan kelas, seperti Ozy yang kini sedang berjoged sambil membawa sapu sebagai micnya. Ify? Hanya cengo melihat kegilaan-kegilaan yang didapatnya setelah berpikir keras. Oh, My God! Bahkan adalagi orang-orang gila yang membuat Ify semakin melebarkan mulutnya yang menganga, temannya tanpa tahu malu berpura-pura menjadi pegawai kantoran, memakai almamater OSIS sambil menyibukkan diri dengan buku yang ia gunakan sebagai laptop bohongan. Mereka terlalu pintar makanya sestress itu atau memang lupa membawa otak saat tadi berangkat sekolah? GILA!!!

“Fy, mau ikut joged gak sama gue?” Seru Ozy yang kini tengah menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan ceria.

“Gak deh makasih” Ify hanya tersenyum kikuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.

“Lo bukan nyanyi dangdut kalo jogednya kayak gitu Zy, tapi lebih pantes kayak orang yang lagi nyinden” Seru Deva yang masih asik dengan foto selfienya.

“Yang penting neng Acha suka, ya gak?” Sahut Ozy sambil menoel dagu Acha yang memang berada tepat dihadapannya.

“Ozy genit, acha kan jadi malu” Ujar Acha sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Dari pada sama Ozy, mending sama gue cha” Ray berseru dengan keras sehingga suasana kelas hening sejenak.

“Lo kayak cewek Ray, ntar dikira gue lesbi lagi pacaran ama lo” Ucap Acha dengan polosnya.
Semua anak-anak yang tadi sempat menghentikan aktivitasnya tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Acha, dasar gadis polos! Seru mereka dalam hati.

***

“Lo kemana aja sih Via? Gue ditinggalin sendiri di dalem kelas yang rusuhnya minta ampun tahu gak?” Seru Ify kesal saat melihat Via yang sedang menjatuhkan bokongnya di kursi sebelah Ify.

“Gue abis dari perpus Fy, nyari referensi buat makalah biologi, lo kan sekelompok juga sama gue, ucapin terimakasih kek, ini malah ngomel-ngomel gak jelas. Lo gak tahu aja ya gue nyari buku sampai..”

“Udah Via cantik, udah, iya gue salah, eh tapi salah lo juga sih kenapa lo gak ngajak gue coba? Padahalkan..”

”Padahal apa? Motong omongan sembarangan lo” Ujar Via ketus.

“Lo juga kan motong omongan gue Via.....!!” Ify mendelik menatap Via yang tengah membereskan buku yang tadi ia bawa.

“Abis lo ngelamun mulu dari tadi, eh lebih tepatnya mikir kayak orang gila ampe gak bisa diganggu, ditanya aja lo cuek bebek Fy, gimana gue gak kesel coba?” Via ikut mendelik sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

“Masa sih? Sory deh kalo gitu” Ify berucap dengan bingung.

“Gimana misi lo? Dapet gak setelah mikir kayak orang gila tadi?” Tanya Via, penasaran juga. Ify menghela nafasnya frustasi lalu menggeleng dengan lemah.

“Udah deh, mending lo nurut apa kata Cakka aja Fy” Ucap Via mengambil kesimpulan.

“Tapi gue penasaran Via” Kekeh Ify dengan pendiriannya.

“Terserah deh” Ucap Via tak peduli lalu tenggelam dalam permainan yang berada dalam ponsel genggam kesayangannya.

***

Ify berjalan seorang diri dikoridor sekolah, seminggu kedepan ia akan disibukkan dengan kegiatan pentas seni siswa. Sialnya, Via dan Cakka yang biasanya selalu menemaninya setiap pulang sekolah harus absen disampingnya selama seminggu ini karena mereka tidak ikut serta dalam kegiatan drama sekolah. Rencananya sekolah akan menyelenggarakan pentas seni yang isinya menampilkan drama musikal dengan dia sebagai pemeran utama wanita –katanya- karena ia juga belum tahu apa-apa mengenai isi drama tersebut.

Sesampainya Ify di aula sekolah, Ify melihat beberapa anak sedang mempersiapkan diri berkumpul bersama om dave untuk breefing terlebih dahulu. Setengah berlari Ify menghampiri mereka yang menyambutnya dengan hangat. Ify memperlebar senyumnya saat beberapa orang menyapa.

“Rio..” Seru om Dave pada seorang pemuda yang berada diujung pintu aula.

Rio mengangguk dan berjalan menghampiri om Dave, Ify mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Rio ada disini juga? Fikirnya.

“Ify, Rio akan jadi lawan main kamu dalam acara drama musikal kali ini” Ucap Om Dave menjawab kebingungan Ify. Belum sempat Ify menanggapi om dave kembali berbicara.

“Kamu kan mahir di piano, nah Rio mahir di gitar, aku rasa kalian cocok” Ujar om Dave dengan senyum manisnya.

Rio tersenyum menanggapi perkataan om Dave, catat itu! Seorang Mario tersenyum! Ify mematung menatap senyum Rio yang dirasa aneh menurutnya. Gue? Adu acting sama Rio? Oh, My God!

***

Ify merebahkan tubuhnya ditempat tidur dengan wajah merenggut kesal. Ia tak habis fikir dengan rencana om Dave dalam pementasan drama nanti. Haruskah? Ini lebih rumit dari apa yang ia pikirkan selama ini. Seorang Mario bernyanyi dan beradu acting diatas panggung dengannya? BERDUA? Oh, kepala Ify benar-benar akan pecah sebentar lagi..

Ketukan pintu dari luar membuat Ify terlonjak dan langsung merapikan baju seragam yang masih ia kenakan sepulang sekolah. Dengan langkah lunglai Ify membuka pintu dan sedikit menyembulkan kepalanya.

“Apa?” Tanya Ify pada seseorang diluar kamar tersebut –Cakka-

“Gue cuman pengen pinjem buku Matematika, gue lupa belom nyalin kemarin kan ada latihan basket mendadak di lapangan” Ujar Cakka setengah mengintip isi kamar Ify.

“Tumben lo gak grasak-grusuk masuk kamar gue” Tanya Ify heran sambil mempersilahkan Cakka untuk masuk kedalam kamarnya.

“Kita kan belom baikan Fy”

“Emang kita marahan ya?” Tanya Ify heran.

“Ya.. ya gitu deh, hehe” Cakka cengengesan sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Sorry ya soal kemaren” Ujarnya lagi dengan memasang tampang menyesal.

“Iya, iya udah gue lupain kok, nih bukunya” Ucap Ify sambil menyerahkan buku matematikanya. Cakka tersenyum manis sambil mengacak rambut Ify gemas.

“Rambut gue Cakka” Kesal Ify

“Hehe, piss Ipy cantik, thanks bukunya, bubay mmuachh” Cengir Cakka sambil berlari menuju rumahnya yang berstatus tetangga dengan rumah Ify. Ify bergidik ngeri melihat kelakuan Cakka yang semakin lama semakin aneh –menurutnya-.

***

Sivia berjalan tergesa menuju kelasnya yang berada diujung koridor. Bel sudah berdering 5 menit yang lalu, bisa habis nyawanya jika ia telat masuk kelas. Hari ini bu Winda guru yang terkenal killer itu mengajar pada jam pelajaran pertama dikelasnya. Tanpa memperdulikan sekitarnya Sivia berlari sambil merapalkan doa.

Duk!

Seorang lelaki berwajah oriental mendengus sebal saat Sivia tak sengaja menubruk tubuhnya hingga keduanya jatuh terduduk dilantai. Ia merapikan bajunya sebentar lalu berlalu meninggalkan Via tanpa suara. Via melongo saat ditinggalkan begitu saja oleh lelaki itu. Dengan kesal Via ikut bangkit dan melanjutkan langkah lebarnya kembali.

“Hosh, hosh...” Via mengatur nafasnya yang sedikit memburu akibat berlari sepanjang koridor. Ify yang tengah duduk sambil membaca novel menolehkan pandangan kearah gadis manis disebelahnya tersebut.

“Gila Fy, untung bu Winda belom nyampe kelas” Lega Via setelah berhasil mengatur nafasnya. Tak lama kemudian Via bersedekap sambil memandang Ify penuh kesal.

“Kenapa lo?” tanya Ify heran

“Tadi gue ketemu sama cowok dingin versi Rio fy, gila dia gak ngomong sepatahkatapun setelah gue gak sengaja nabrak tubuhnya, emang sih ya gue yang salah tapi masa dia gak bisa nunggu gue berdiri buat minta maaf sih, belom apa-apa dia udah ngelengos gitu aja, sebel gak sih digituin” Gerutu Via panjang lebar. Ify yang memperhatikan mimik muka Via yang masam hanya tersenyum tipis memaklumi. Belum sempat Ify menanggapi gerutuan Via bu Winda datang bersama seorang lelaki, sepertinya dia anak baru dikelas ini.

“Anak baru lagi, anak baru lagi mana pada ganteng lagi. Nambah lagi nih saingan gue” Celetuk Daud saat anak baru tersebut akan memperkenalkan diri. Sorakan dari anak-anak sekelas saling bersautan menanggapi ucapan Daud.

“Ehm, perkenalkan nama saya Alvin dari Bandung” Sapa anak tersebut –Alvin-

Krik, krik

Semua anak dikelas melongo melihatnya, hanya itu? Alvin dengan santainya berdiri didepan kelas dengan wajah datar sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana, terkesan dingin dan tidak bersahabat.

“Baik, Alvin kamu duduk bersama.....” Bu Winda terlihat bingung melihat bangku dikelas ini telah terisi penuh, kecuali satu bangku kosong yang berada diujung kelas.

“Saya duduk sendiri disana saja bu” Ujar Alvin sambil menunjuk satu bangku yang sedari tadi diperhatikan oleh bu Winda. Bu Wnda hanya mengangguk dan mempersilahkan Alvin berlalu dari sampingnya.

Sivia masih melongo melihat lelaki yang tadi ditabraknya berada dikelasnya dan menjadi teman sekelasnya, mulut Sivia terbuka lebar hingga akhirnya tangan Ify menyenggol lengan Via, menyadarkannya dari keterkejutan.

“Kalo terpana gak segitunya juga Via” Ucap Ify sambil berbisik, takut bu Winda mendengar ucapannya.

“Itu cowok yang tadi gue ceritain Fy” Balas Via. Lalu keduanya diam karena takut melihat tatapan bu Winda yang terkenal angker itu.

***

Ify kembali melewati koridor seorang diri. Ini adalah hari pertamanya latihan drama di aula sekolah setelah kemarin sempat sedikit menceritakan bagaimana alur drama ini nanti. Ify bersenandung tanpa henti disepanjang koridor, tak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Rio yang sedari tadi berada disebelahnya juga acuh tak acuh dengan keberadaannya. Hingga saat tiba diujung koridor Rio membuka suara.

“Menurut lo lagu buat nanti drama lagu apa?” tanya Rio santai dengan tangan yang setia berada dalam saku celana. Ify yang mendengar suara selain suara dirinya sendiri menoleh kaget kearah Rio, bahkan tubuhnya mundur beberapa langkah hingga hampir jatuh untung Rio dengan sigap menggapai tubuhnya yang sebentar lagi membentur lantai. Mata Ify membulat saat kedua tangan Rio mengurungnya. Rio yang mengerti kerisihan Ify membantunya berdiri dengan benar dan sedikit menjauhkan diri dari tubuh Ify. Memberi Ify kebebasan untuk bernapas. Napas Ify masih memburu saat ia benar-benar telah berdiri. Pikirannya blank dan ia masih merasakan kedua tangan Rio yang menangkap tubuhnya. Fy, lo tenang. Rio cuman bantu lo biar lo gak jatuh. Oke, rileks! Ify menjampe-jampe dirinya sendiri.

“Lo kok kaget sampai segitunya sih Fy? Emang gue kayak hantu ya?” Tanya Rio sambil menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. Tumben nih anak ngomongnya agak panjangan Batin Ify heran.

“Santai aja Fy” Ujar Rio dengan sedikit senyuman. Oh no!! Ini benar-benar Rio kan? Bukannya menjawab Ify malah melongo melihat perubahan sikap Rio.

“Fy, lo masih disana kan?” Tanya Rio sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Ify.

“I, iya gak apa-apa yo, hehe” Ify tersenyum terpaksa

“Lo kok ada disini ya?” Tanya Ify sesaat setelah ia bisa menguasai dirinya sendiri.

“Dari tadi juga gue jalan disamping lo kali Fy” Ujar Rio dengan santai. Berbeda, berbanding terbalik dengan Rio yang selama ini ia kenal.

“Oh, ya?” Ify membeo, terlihat ia masih bingung dengan keadaan yang baru saja ia alami. Rio yang melihatnya terkikik geli lalu sedikit mengacak rambut Ify. Ia gemas. Ify membuka lebar-lebar mulutnya melihat kelakuan Rio yang manis padanya.

“Kenapa?” Tanya Rio lembut

“Lo Rio kan? Mario Stevano yang sekelas sama gue, yang duduk semeja sama Cakka sahabat kecil gue yang..”

“Gue Rio Ify, bener-bener Rio” Potong Rio menenangkan Ify yang sepertinya belum terbiasa dengan sikapnya yang satu ini.

“Oke” Sahut Ify lalu menoleh kearah depan, kembali lagi menoleh kearah Rio, kedepan, ke Rio kembali. Dan ini benar-benar membuatnya pusing.

“Kok bisa?” Ujar Ify kembali


“Ya, gue tahu dimata lo gue anaknya gimana, tapi sekarang gue mau memperbaiki hubungan antara gue dan lo. Kita kan bakal jadi partner buat drama nanti, dan gue gak mau lo kaku kalo deket gue” Jelas Rio sambil tersenyum begitu manis. Gingsulnya itu loh... kalau dipikir-pikir ini adalah ucapan Rio yang paling panjang yang pernah ia dengar selama ini. Bagus Rio, lo udah buka topeng lo dihadapan gue. Sorak Ify dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar