Rabu, 22 Juni 2016

When I See You -Part 5-

Suara gemuruh terdengar begitu jelas seusai reading naskah drama yang akan diperankan oleh kedua pasangan musik yang kini berada ditengah-tengah kerumunan anak-anak drama. Bahasa yang digunakan dan bagaimana cara penyampaian kedua pasangan itu begitu serasi dan terlihat sangat ehm so sweet! Anak-anak drama tak henti-hentinya bersorak bahagia melihat Rio dan Ify saling berpandangan satu sama lain bahkan Om Dave sendiri terus menampilkan senyum terbaiknya melihat adegan itu.

Prok, prok, prok...

“Ciyeee co cwit cyiinn..” Seru Dayat dengan suara toanya. Semua pandangan anak-anak beralih kepada Dayat yang terus mengedipkan matanya kearah Rio. Rio bergidik ngeri melihat tatapan Dayat sedangkan anak-anak yang lain kembali bersorak heboh.

“Lo kayak banci kepanasan Day” Celetuk Zahra, salah seorang anak drama.

“Lo cemburu Ra karena gue ngedip matanya cuman ke Rio doank? Nih,, gue kedipin lo” Ucap Dayat genit. Namun kali ini kedua matanya yang berkedip-kedip bak lampu yang kehabisan listrik(?).

“Hahaha.. Lo cuco Day” Seru yang lain secara bersamaan, kemudian semuanya tertawa terpingkal-pingkal.

***

“Jadi ini maksud lo memperbaiki hubungan?” Tanya ify saat ia dan teman-teman drama yang lain tengah beristirahat untuk scene berikutnya.

“Ya, lo tahu maksud gue apa.” Jawab Rio masih dengan tampang datarnya membuat Ify tak segan untuk memutar mata karena kesal dengan sikap Rio yang lebih mirip bunglon.

“Kalau lo mau bersikap manis sama gue, jangan tampilin wajah pahit lo dulu selama persiapan drama ini berlangsung. Gue males kalau udah berhubungan sama orang kayak gitu.” Jelas Ify, ia tak lagi menghiraukan detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat saat sedang berada disamping pemuda ini. Berbicara jujur adalah sesuatu yang terbaik saat akan memulai sebuah hubungan, bukankah hubungan harus dibarengi dengan keterbukaan?

“Oke, cuman sama lo gue hilangin ego gue dulu.” Rio masih membalas ucapannya dengan wajah datar membuat Ify gemas untuk tidak menyentuh pipinya, karena moodnya sedang dalam keadaan jelek tanpa sadar Ify mengulurkan tangannya dan menarik setiap ujung bibir Rio agar pemuda itu tau caranya tersenyum.

“Kalau lo masih gak tau juga caranya tersenyum, ini gue kasih tau.” Ujar Ify, ia tersenyum hangat didepan Rio dengan tangan yang tak ia lepaskan dari wajah pemuda itu. Ia bisa melihat Rio meringis melihat perlakuan Ify padanya, tapi bodo amat dengan Rio, Ify hanya ingin Rio mengerti maksud dari sikapnya ya semoga Rio memang mengerti.

“Ngerti?”

“Oke, fine gue ngerti.” Rio segera menangkis tangan Ify dan tersenyum memaksa membalas senyum gadis itu dan tanpa pamit berlalu dari hadapan Ify untuk menemui Om Dave yang sedang berkutat dengan naskahnya.

***

Tak disangka saat latihan drama telah usai, selang beberapa menit hujan turun dengan derasnya. Hampir semua anak-anak drama berlarian keluar gedung seni dan mencari mobil mereka di tempat parkir namun ada pula sebagian orang yang menggerutu kesal karena tak ada tumpangan pulang dan itu artinya mereka terjebak di sekolah saat hari sudah sangat petang, termasuk Ify. Ia memperhatikan dengan seksama area parkir, kali aja Cakka masih di Sekolah pikirnya. Tapi, sayangnya ia tak juga menemukan mobil Cakka setelah tiga kali menelisik dengan teliti, baiklah ia akan mati kebosanan di bangku panjang ini seorang diri karena Cakka memang benar-benar sudah pulang.

“Ngapain lo masih disini?” Suara milik Rio mengalihkan perhatian Ify dari hujan yang saling berjatuhan didepannya. Ia memutar kepalanya ke sebalah kanan tempat ia duduk dan cukup kaget karena ternyata Rio tengah berbicara dengan manusia es kedua di kelasnya, bukan bertanya padanya.

“Gue tadi habis ada urusan sama kepala sekolah, karena gue inget lo pasti pulang sore makanya gue pulang sore juga lumayan dapet tumpangan gratis.” Balas Alvin dengan wajah yang lumayan tengil –menurut Ify-.

“Modus banget lo”

“Emang tujuan gue begitu, makanya gue nungguin lo disini. Jadi, kapan kita pulang?” Tanya Alvin tak sabaran. Namun, tak ada jawaban dari Rio setelahnya, pemuda itu malah mengedarkan pandangannya dan akhirnya menemukan Ify yang juga tengah menatapnya. Mampus, Ify ketahuan tengah memandangi Rio dan Alvin! Segera ia mengalihkan tatapannya agar tidak terlalu dicurigai oleh Rio, tapi sayang Rio sudah terlanjur memanggilnya dan kini tengah berjalan menghampirinya.

“Ngapain lo masih disini?” Pertanyaan yang sama, kali ini dilontarkan pada Ify.

“Eh... itu, nunggu hujan hehe.” Ify menjawab ragu saat dilihatnya Rio menolehkan kepalanya pada air hujan.

“Bukan Cakka?” Tanyanya, terdengar aneh ditelinga Ify. Tapi tetap saja gadis itu menggelengkan kepalanya keras-keras.

“Baguslah.”

“Apa?” Tanya Ify heran, baguslah? Maksudnya apa ini?

“Gak, lupakan. Lo mau ikut pulang bareng gue? Berhubung hujannya deras dan gue yakin gak akan reda dalam waktu singkat.”

Ify menelan ludahnya susah payah saat mendengar ajakan pulang bareng dari Rio, semobil dengan Rio? Bisakah? Oh tidak, ia hampir lupa dengan Alvin yang tadi juga berencana pulang dengan Rio. Semobil dengan kedua makhluk aneh ini rasanya terdengar ekstrim, Ify akhirnya menoleh menatap Alvin yang juga tengah menatapnya santai tanpa penolakan, berarti pemuda itu tak keberatan.

“Lo inget kan omongan kita tadi?” Tanya Rio, ia menampilkan senyum paksa yang menyebalkan pada Ify. Baiklah sekali ini saja tidak ada salahnya.

“Oke.” Ify segera beranjak berdiri dan mengikuti langkah kedua pemuda itu, ini adalah cerita besar yang harus Ify ceritakan sesegera mungkin pada Sivia dan Cakka, ya segera.

***

“Alvin sahabat gue dari balita, jadi lo gak usah aneh. Dia kerjaannya emang ngintilin gue kemana-mana.” Ucap Rio membuka pembicaraan saat Ify dan Alvin sudah duduk manis di dalam mobil. Ify, tentu saja duduk di belakang seorang diri karena Alvin sudah lebih dulu membuka pintu mobil bagian depan seolah tidak membiarkan Ify duduk disana. Sedangkan rio hanya memutar mata karena malas.
Ify hanya manggut-manggut saja untuk menanggapi ucapan Rio, ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya Ify memfokuskan tatapannya pada jalan kota Jakarta yang tetap padat walaupun hujan turun dengan deras. Seekali memang gadis itu mencuri tatap pada kedua pemuda dihadapannya yang tak juga bicara setelah ucapan terakhir Rio tadi. Rasanya ia gugup luar biasa menyadari keheningan yang mencekam didalam mobil, jika tahu seperti ini jadinya ia tidak akan menerima tawaran Rio untuk pulang bersama. Memelintir ujung baju menjadi kebiasaan Ify ketika gugup dan hal itu menjadi daya tarik Alvin untuk memulai pembicaraan dengannya.

“Nama lo siapa?” Tanya Alvin tanpa aba-aba membuat Ify sontak mengalihkan perhatian kepada pemuda itu.

“Ify” Cicitnya.

“Baru kali ini gue lihat lo, lo temenan sama Rio di Sekolah? Gue kira Rio gak pernah punya temen di Sekolah.” Ujar Alvin tanpa dosa yang menyebabkan kernyitan di dahi Ify semakin banyak. Ify dapat merasakan tatapan membunuh dari Rio untuk Alvin, tapi sepertinya pemuda itu tidak menyadari sama sekali.

“Kita satu kelas dan lo gak pernah lihat gue?” Tanya Ify tak percaya.

“Satu kelas? Oke, ini mungkin berita baik.”

“Rio berteman sama Cakka kok, ya teman sebangkunya. Gue juga baru-baru ini bareng dia gara-gara sering latihan buat pementasan drama.”

:Oh, jadi ini ceweknya.” Gumam Alvin, namun terdengar tak jelas ditelinga Ify.

“Apa?”

“Nanti gue kenalin lo sama Cakka.” Suara Rio terdengar tengah menginterupsi Alvin yang akan berbicara.Jadilah mereka bertiga kembali terdiam dan suasana di dalam mobil kembali sunyi.

“Senang bertemu lo Ify.” Pungkas Alvin saat Ify hendak beranjak untuk keluar dari mobil. Ify kembali mengalihkan tatapannya pada Alvin dan tersenyum manis pada pemuda itu.


“Gue juga. Sampai ketemu besok di sekolah Alvin. Oh, ya thanks yo tumpangannya, gue duluan.” Ify melambaikan tangannya pada kedua pemuda itu yang dibalas dengan senyum terpaksa oleh keduanya. Sangat terlihat jelas bawhwa mereka memaksakan senyum kepadanya dan tentu saja hal itu sangat menyebalkan untuk dilihat. Tapi Ify cukup senang karena mereka akhirnya bisa menanggapi keadaannya juga, tersenyum seperti itu saja sudah membuat perasaannya tak menentu, lihat saja nanti pada akhirnya mereka pasti akan bisa tersenyum tulus padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar