Rabu, 07 September 2016

I Love You, Best Friend

Indonesia wajib memiliki wanita dan laki-laki dengan paras mengagumkan seperti mereka. Ya, mereka yang kumaksud adalah sepasang suami-istri baru yang tengah berbulan madu di tepi pantai tepat berada sepuluh meter dari jarak pandangku.

Aku, gadis berkacamata yang terkesan sangat biasa jika dipandang oleh semua manusia di bumi ini adalah sahabat dari kedua manusia yang berparas mengagumkan diujung sana.  Berperan sebagai bridesmaid diacara pernikahan mereka menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa dengan puasnya memandangi mereka yang tengah bermesraan layaknya pengantin baru dalam jarak sedekat ini, ditempat yang begitu jauh dari unit apartemenku di Jakarta. Kami kini berada di Bali, memandang penuh minat pada matahari senja. Sekujur tubuhku dilingkupi rasa sesak, tapi apa pula yang harus kulakukan untuk menekan rasa itu? Menarik senyum setulus yang kumampu dan ikut berbahagia bersama ratusan orang disini. Ya, memang seperti itulah peranku disini. Jadi apalagi yang bisa kuharapkan?

“Van?” Sebuah suara menginterupsi kegiatanku-melamunkan mereka- dan berlanjut pada tepukan lembut dibahuku. Mama, menatapku lembut dan mengajakku untuk turut serta pada acara makan malam di sebuh resort pinggir pantai. Mungkin, semua tamu sudah berkumpul dan aku tanpa sadar masih saja memisahkan diri selepas akad nikah berlangsung tadi pagi.

“Ajak Gabriel dan Keyra ke resort gih, kamu jangan melamun terus gak baik.” Ujar mama yang hanya dibalas senyum meringis olehku. Ternyata mama menyadari aktivitasku sedari tadi. Aku hanya mengangguk untuk mengiyakan lalu kembali diam saat mama berlalu kembali bersama teman-temannya.

Sejenak aku menghela nafas berat, sesulit inikah? Lalu, sembari menekan kuat-kuat perasaan yang telah meledak dalam tubuhku, aku berjalan menyusuri pantai untuk menemui kedua pasangan itu yang kini tengah saling bersandar satu sama lain.

“Yel”

Kulihat Gabriel menolehkan kepalanya padaku masih dengan senyum bahagianya, ia menguraikan pelukannya pada tubuh ramping Keyra dan menatapku penuh tanya.

“Mama suruh aku ajak kalian ke resort, makan malam udah siap.”

“Bukannya masih senja?” Tanya Keyra yang kini telah beranjak dari duduknya dan berjalan menghampirikiku.

“Aku hanya menjalankan amanah.” Ucapku sambil lalu.

Gabriel dan Keyra hanya tersenyum menanggapi, lalu Keyra merangkulku untuk beranjak dari sana menuju resort. Gabriel berjalan disampingku setelah ia mengacak puncak kepalaku, wajahku masih tetap sama, tenang tanpa emosi. Aku sudah terbiasa berjalan diantara mereka berdua, menyelami perasaan seorang diri, saling menguatkan keduanya dan berakhir dengan berpisahnya antara aku dan mereka dipersimpangan jalan. Aku yang selama ini seorang diri akan selamanya seperti itu, menekan sekuat tenaga perasaan yang bergejolak dan bersikap sewajarnya, menampakkan diri tanpa emosi hingga mereka benar-benar melupakan keberadaanku selama ini. Bukan maksudku untuk berbohong, hanya saja dimata siapapun aku hanyalah seorang gadis pengantar kebahagiaan yang tak seharusnya ikut dalam kebahagiaan. Cukup menjadi pemerhati dan sesekali melangkah untuk mengulurkan tangan agar kebahagiaan itu tetap ada tanpa aku harus turut campur didalamnya.

“Kamu tahu Vanessa?” Tanya Gabriel sesaat setelah Keyra memutuskan untuk berlalu meninggalkan kami berdua dan menghampiri teman-teman sekantornya.

“Kamu tetap sahabat terbaikku, sahabat yang akan selalu ada seumur hidupku. Gak akan ada yang berubah setelah semua yang telah kita lewati selama belasan tahun ini. Jadi aku mohon jangan pernah membuat jarak diantara kita.”

“Memangnya aku akan pergi tanpa pamit setelah kalian menikah hingga harus membuat jarak?” Tanyaku yang lebih tepatnya seolah bertanya pada diriku sendiri.

“Semoga saja itu gak akan pernah terjadi. Sebelum aku menemukanmu hidup bahagia bersama pendampingmu kelak.”

“Hmm semoga.” Ucapku sambil lalu, mataku menatap kearah lain memperhatikan kedua keluarga kami yang tengah antusias entah membicarakan hal apa.

“Vanessa”

“.....”

“I love you, you always be my best friend.”

Aku menahan nafas saat melihat kedua bola matanya yang menyerukan kalimat tersebut, kalimat yang sudah kutunggu sedari dulu walaupun diberi sentuhan yang berbeda diakhir kalimatnya yang membuat jantungku teremas tanpa sebab, dan rasa sesak itu semakin bertubi-tubi menyerang organ tubuhku. Memasang wajah tanpa emosi seperti biasa dan tersenyum setulus yang ku mampu, aku hanya bisa memeluknya tanpa menjawab apapun. Menangis dalam diam hingga tak mampu dilihat oleh siapapun dan berujar dalam hati akan selalu bahagia jika laki-laki ini bahagia.


“I’m happy if you always be happy.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar