Jumat, 14 Oktober 2016

Dear My First Bestfriend

Hai teman-teman, tahukah kalian bahwa sedari dulu saat aku masih pakai baju putih merah dan terus dijahili oleh teman-temanku karena tubuhku yang paling kecil dikelas, aku hanya menginginkan satu memori saja saat aku memiliki seorang sahabat seperti di setiap novel yang kubaca, sahabat yang akan selalu ada saat susah ataupun senang, sahabat yang menemani setiap perjalanan hidup yang kulalui dan sahabat yang mau mendengarkan keluh kesahku karena saat itu aku hanya berpegang teguh pada buku diary yang kini telah usang dimakan zaman.

Setiap aku menorehkan tinta pada halaman kosong bukuku aku selalu menuliskan sebuah kalimat “Ya Tuhan, izinkan aku memiliki seorang sahabat”, selalu seperti itu. Akhirnya aku berada disini, di waktu yang telah kutunggu bertahun-tahun lamanya. Memang saat duduk di Sekolah Menengah Pertama aku mempunyai teman-teman yang ku anggap special tapi mereka dan aku tak lebih dari teman bermain dan belajar, aku masih menjadi gadis yang penuh misteri dengan terus menggenggam buku. Mereka menjadi kenangan yang baru dimana pertemanan itu tak pernah luntur oleh waktu karena sampai saat ini jika hari libur tiba kami selalu menyempatkan diri berkumpul bersama. Di Sekolah Menengah Atas, rasanya sama saja dengan duduk di bangku dasar, beruntungnya aku karena ada seorang teman SMP yang sampai saat ini masih berhubungan baik denganku karena kami seringkali menghabiskan waktu bersama. Ya, dia satu-satunya temanku yang masih bisa kuhungi tanpa malu, walaupun aku sangat jarang sekali bercerita tentang suasana hatiku padanya setiap waktu tapi aku berharap hubungan kami tak pernah putus. Ia yang tempramental dan selalu galau dengan masalah percintaannya tak pernah membuatku bosan, walaupun dalam hati aku sangat menyesal karena tak bisa mendengarkan semua keluh kesahnya dan hanya membacanya melalui tulisan yang ia sebarkan di dunia maya, aku bahkan jarang memberinya solusi yang tepat.

Dan, cerita ini bukan tentang aku dan ‘teman-temanku’ diatas, tapi tentang kalian. Untuk pertama kalinya Tuhan memberikanku waktu memiliki sahabat seperti kalian. Tahukah kalian bahwa aku sama sekali tak berpengalaman untuk berteman? Aku selalu sendiri, dengan duniaku sendiri. Mungkin jika kita tak pernah berada dalam satu atap yang sama, aku tak pernah mengenal rasanya dianggap ada karena kita bersama, selalu.

Aku tak pernah tahu apa kalian tulus untuk menemaniku atau tidak, itu urusan kalian. Tapi bolehkah aku berharap lebih? Hai, sahabat rasanya aneh jika aku harus memuji kalian dengan julukan itu. Tapi bolehkah untuk sekali ini saja? Aku memang bukan teman yang baik, yang akan selalu ada, yang akan memberi solusi saat kalian memiliki masalah, yang akan membuat kalian tertawa terpingkal-pingkal, atau yang membuat kalian merasa rindu saat aku tak ada. Nyatanya aku memang teman yang buruk. Aku tak pernah tau caranya peduli, menjadi sandaran atau apapun itu namanya, aku tak pernah tahu. Kuharap kalian mengerti dan tetap bersamaku walaupun kalian membenci semua tingkah lakuku.

Dan hari ini, aku merasa sangat gagal. Karena aku telah membuatmu kecewa. Apakah aku tak pantas menjadi sahabatmu karena tak satupun dari semua sikapku yang menyenangkanmu? Jika iya, aku benar-benar minta maaf. Hai, kamu yang menjadi sahabat pertamaku, yang selalu ada bersamaku walaupun kala itu kamu tengah menghindari sahabatmu dan menjadikanku pengalih perhatian, mungkin? Kamu pendengar keluh kesah tentang cinta tak terbalasku, pendengar semua kejadian terburukku, dan sekarang tengah menjauhiku dan marah padaku entah untuk alasan apa akupun tak tahu. Aku hanya memintamu untuk tetap menjadi sahabatku walaupun kamu tak pernah mau untuk selalu terlihat bersama, ah mungkin kamu bosan dan muak dengan semua sikapku. Padahal, tahukah kamu? Kamu menjadi salah satu alasan terkuatku untuk tetap berada ditempat yang tak pernah ingin aku geluti. Kamu menjadi penyemangat untukku berada ditempat ini, aku harap kamu mengerti.


Teruntuk kamu, sahabat pertamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar