Jumat, 14 Oktober 2016

Purnama yang Kurindukan

Ribuan kelopak mata menjadi alasan meresah
Resah penuh sesal dan maaf yang tak terucap
Meragu tuk berjalan menuju Yang Maha
Hitam di atas putih, haruskah ku terdiam karenanya?

Rasa takut meraja, diam bukanlah alasan
Bergerakpun tak tentu arah
Purnama, kau yang bersedia menemani malam
Saat terselimuti tanah, Apakah kau ikut turut serta?

Mata yang melihat, telinga yang mendengar
Ku ucap maaf tuk semua yang mengenal
Bersimpuh dalam noda hanya pada-Nya
Namun ajal, siapa yang dapat menerka?

Wahai Purnama yang terganti awan
Kemarilah tuk terangi gelapnya mata
Jika berkenan, kan ku ubah pilu jadi tawa
Siapa yang diterka? Aku bersedia jika memang itu adanya

Karena takdir tak pernah lepas dari rencana Yang Kuasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar