Rabu, 30 November 2016

Cafeku, 'Saksi Perang'ku

Derap langkahku menjadi begitu pelan saat mengamati buku-buku yang tersusun dalam rak tinggi di sebuah cafe pinggiran kota. Cafe yang tengah kukunjungi ini merupakan cafe yang dibuat khusus untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca santai, karena suasana cafe yang tidak bising ditelinga. Beberapa rak buku yang menjulang tinggi dan berjejer rapi juga menjadi salah satu faktor pendukungnya. Berada di cafe ini seolah berada di perpustakaan dengan label bebas makanan dan minuman, suasana yang sejuk dan arsitektur yang klasik juga menjadi nilai tambah cafe ini. Hampir setiap minggu aku berkunjung ke cafe ini hanya sekedar untuk menghilangkan penat dari tugas sekolah dan membaca beberapa novel yang tersedia, lumayan menghemat dari novel gramedia dan mengurangi ocehan mama.

Kali ini aku tengah mencari novel Harry Potter and The Deathly Hallows yang baru kubaca separuh, terlambat memang jika baru membaca novel itu sekarang saat filmnya sudah tayang bertahun-tahun yang lalu dan akupun sudah menontonnya bersama adikku, tapi tetap saja membaca dan menonton merupakan hal yang berbeda dan aku menyesal baru mendapatkan buku tersebut beberapa waktu yang lalu.

Wajahku mengerut heran saat tak juga mendapatkan buku yang kucari sedari tadi, padahal aku sangat yakin buku itu kemarin sore masih ada di tempat biasa, tapi kali ini aku tidak juga menemukannya setelah lebih dari tiga kali berkeliling. Mataku menelisik dengan lebih cermat lagi dan semakin heran saat mendapatkan buku itu di jajaran rak yang paling atas, hal itu tentu saja membuatku mendumel kesal. Bagaimana bisa buku itu berada disana? Jaraknya terlalu jauh untuk kugapai dengan tanganku sendiri dan oh sial

“Hei bukuku!” Seruku kesal, tapi kemudian aku membekap mulutku sendiri saat beberapa orang menolehkan wajahnya dengan ekspresi terganggu. Wajahku menyembul begitu saja dari celah-celah rak buku yang kosong dan mendapati seorang pemuda tengah memegang bukuku dengan tampang datar sambil sesekali membalikkan halaman buku tanpa menatapku yang sudah seperti orang gila berbisik kesal kearahnya.

“Woy, denger aku ngomong dari tadi gak sih? Itu bukuku.” Ujarku tanpa malu, kali ini tanganku ikut mengapai-gapai buku itu, membuat pemuda tadi menoleh kearahku dengan tampang menyebalkannya.

“Lo siapa berani bilang ini buku lo? Siapa yang cepat dia yang dapet, ngerti?” Geramnya dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan kekesalan yang berapi-api diwajahku. Pemuda sialan!

@@@

“Lo tahu? Buku Harry potter yang gue temuin rabu kemarin tiba-tiba hangus gitu aja. Padahal itu hartakarun gue minggu ini Mel.” Rengekku pada Mela yang tengah mengisap cappucinonya.

“Maksudnya kebakar gitu? Perasaan cafe ini baik-baik aja Nes.” Ujar mela polos membuatku merengek dan bertambah kesal. Salah jika aku berkeluh kesah dengan Mela si lemot, aku tak menjawab ucapannya dan mendekap tangan didepan dada begitu saja.

“Hari ini kayaknya gue sial banget.”

“Gak ada hari sial Nesa, lo inget kan kata Pak Duta kalau kita percaya tentang..”

“Iya, iya gue inget, anak Pak Duta banget sih.” Gerutuku semakin kesal, bisa-bisanya aku betah dengan Mela selama hampir 5 tahun menjadi sahabatnya.

“Nes, nes itu Rio, penyanyi yang baru naik daun, duh ganteng banget!.” Mela tiba-tiba saja menggoyang-goyangkan tubuhku membuatku sangat tidak nyaman, namun tetap saja aku menoleh pada sosok yang dimaksud Mela. ‘Pemuda pencuri buku!’ pekikku kesal dalam hati.

“Itu dia orang yang curi buku gue Mel.” Bisikku pada Mela, yang dibalas dengan tampang bingungnya.

“Ini kan buku cafe, siapa aja boleh dong pinjam buku disini.” Kesimpulan Mela membuatku mendesah berat, ya ini memang buku cafe, tapi itu tetap bukuku. Ah sudahlah, akhirnya aku hanya mampu memberikan tatapan membunuh pada pemuda itu berharap dengan begitu rasa kesalku padanya dapat melebur begitu saja.

@@@

Sore ini cafe terlihat sepi dari pengunjung, orang-orang yang berlalu lalang diantara rak buku menghilang begitu saja, menyisakan aku sendiri yang berjalan mengamati buku-buku novel seperti biasa. Sudah hampir seminggu aku tidak berkunjung ke cafe favoriteku ini, rasanya sudah sangat terlalu lama.

“Hey.” Ujar seseorang sembari menyentuh pundakku, hal itu tak ayal membuatku berjengit karena terkejut merasakan sebelah tangan yang menumpu pada bahuku begitu saja, tidak sopan!

“Ada ap..” Ucapanku terputus begitu saja saat melihat Rio-seseorang tadi- tengah menatapku dengan tampang menelisik dan tersenyum aneh, kelakuannya tentu saja membuatku bergidik ngeri dan menatap tajam pada tangannya yang masih bertengger dibahuku sedari tadi.

“Kamu cewek pengganggu minggu lalu kan?” Tanyanya seolah tanpa rasa bersalah karena telah menyebutku sebagai ‘cewek penggganggu’, pengganggu katanya?

 “Kamu suka Harry Potter?” Tanyanya, sepertinya ia mengalihkan pembicaraan, aku mengernyit saat mendapatinya tengah menggenggam buku yang seminggu lalu ku incar setengah mati, ia menjulurkan buku tersebut padaku begitu saja dan tentu saja aku menerimanya dengan senang hati.

“Ya, aku penggemar berat Harry Potter.”

“Potterhead?” Aku menggangguk antusias dan berhasil membuatnya tersenyum lebar sama sepertiku.

“Karena kamu udah dapet bukunya, kita duduk disana yuk.” Ajaknya dan tanpa malu menggenggam tanganku begitu saja lalu menarikku ke tempat duduk yang ia maksud. Detik ini juga, aku yakin jika aku tak bisa mengontrol kerja jantungku dengan baik maka aku tak bisa menjamin jika jantungku ini masih bisa bertengger ditempat yang sama.

“Kamu tahu, Harry Potter mau meluncurkan buku terbarunya?”

“Harry Potter and The Cursed Child”

“Kalau kita bisa ke London bareng dan nonton teaternya pasi seru.” Ujarnya bersemangat, aku hanya membelalakkan mata menanggapinya. Apa ia sudah gila? Hanya baru berselang beberapa menit perkenalan kami dan ia tanpa ragu mengajakku ke London?

“Kalau kamu yang bayar, sepertinya aku gak keberatan.” Ucapku asal, lalu mulai membuka lembaran-lembaran buku dengan antusias.

Ia memandangi atap-atap cafe masih sama antusiasnya seperti tadi. Aku jadi semakin heran saat melihat matanya berbinar senang, padahal kemarin ia hanya memandangku datar dan memasang wajah paling mengerikan yang pernah aku lihat. Memikirkan manusia aneh ini membuat kepalaku semakin pening saja, aku membiarkannya bercerita tak jelas sedangkan aku sendiri sudah lelap dalam novel. Namun, tiba-tiba saja ia menggebrak meja cafe dan tatapannya menghunus begitu tajam kearahku membuatku beringsut mundur, menempelkan tubuhku pada sofa saking terkejutnya.

“Ada apa sih? Sekarang siapa coba yang jadi pengganggu, kamu!” Seruku kesal.

“Aku cerita sedari tadi gak didengerin, kamu lupa aku siapa?” Tanyanya masih dengan wajah datar.

“Kita bahkan belum kenalan, aku baru lihat kamu seminggu yang lalu dengan tampang jutek lalu tadi kamu tiba-tiba berubah jadi cerewet, sekarang kamu marah-marah. Aku gak ngerti maksud kamu itu apasih?”

“Minggu lalu aku acting pura-pura gak kenal kamu Nes, hari ini aku coba ngingetin kamu siapa aku tapi kamu masih gak kenal aku juga? Keterlaluan banget sih.” Wajah Rio melunak, ia menyandarkan tubuhnya di sofa sebelah kananku, aku semakin tidak mengerti dengan penyanyi yang baru naik daun ini. Namanya saja baru kuketahui dari Mela minggu lalu, jadi siapa yang salah disini?

“Aku Mario, saudara jauh yang waktu umur 7 tahun pindah ke London. Kita satu TK astaga kamu lupa sama anggota keluarga kamu sendiri? Padahal aku gak pernah lupa sama cewek ingusan kuncir dua yang suka ngompol kayak kamu. Kamu biasa manggil aku Marmar sama suara cadel yang nyebelin, padahal aku mau kasih surprise ngajak ke London nonton teater Harry Potter gara-gara mama bilang ke bunda kalau kamu tergila-gila Harry Potter dan aku nungguin kamu di cafe ini seminggu tapi kamu gak dateng juga? Kejutan macam apa ini? Errr.” Rio terus berceloteh seperti anak kecil karena melihat aku yang terdiam begitu saja. Ini Marmar? Cowok rese ini Marmar? Astaga aku baru ingat anak kecil yang sok ganteng itu, terlihat dari manapun tampangnya sekarang jauh berbeda dengan Marmar yang dulu ku kenal. Aku menatapnya dengan penuh pertimbangan, memang cafe ini dulunya adalah saksi bisu kedekatan aku dengan Marmar, dekat dalam arti tempat kami perang setiap hari yang membuat mama dan bunda lelah untuk menjauhkan kami berdua, tapi aku semakin tidak percaya terhadap apa yang kulihat hari ini. Marmar ada disini menungguku selama seminggu dan tiba-tiba mengajakku ke London? Bangunkan aku sekarang juga!


“In your dreams Nesnes! Aku gak mungkin ajak kamu ke London sementara aku banyak kerjaan disini. Lagipula rumah papa disana udah dijual makanya aku pulang dan mulai gangguin kamu lagi hehehe.” Ucapan Rio yang satu ini benar-benar membuatku geram. Ya dia memang marmar, karena hanya dia yang berani memanggilku seperti itu. Setelah ini aku yakin ia akan mati ditanganku, awas saja kau Marmar! Cafe dengan arsitektur yang dibuat sedemikian rupa seperti perpustakaan ini akan menjadi saksi bisu dalam perang kedua kita, tunggu saja kau Marmar yang katanya SAUDARA JAUHku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar