Jumat, 18 November 2016

Magic in Love

“Andaikan dia tahu apa yang kurasa, resah tak menentu...”

Stop, aku sudah terlalu lama mengalami hal magic seperti ini. Ya, Magic! Entah sudah tahun keberapa aku masih saja tetap diam ditempat, statis. Satu langkah saja kucoba untuk bergerak namun bagai terpaku baja, nyatanya aku tetap diam.

“Kenapa nyanyinya berhenti May?” Tanya Ica masih sambil mengunyah siomay favoritnya.

“Ada yang kesindir kayaknya, upss!” Dengan ekspresi sok imutnya Damay mengedipkan sebelah mata padaku. Menyebalkan!

“Eh, siapa? Aku kan udah taken, kamu juga udah. Berarti...”

“Apa?” Tanyaku garang pada mereka berdua. Lantas keduanya sontak tertawa. Mereka menertawakanku? Biarlah. Aku kembali bersikap tak acuh, tapi sayang mataku menoleh kearah yang tidak tepat. Disana, tepatnya di Lapangan tengah ada satu pelaku pencipta magic yang hampir 3 tahun ini seenaknya mengacak-acak perasaanku. Sialnya, dia juga ikut menolehkan kepalanya padaku sambil tersenyum dan berdadah-dadah ria seperti biasa membuatku meringis tidak kentara. Haruskah? Ya, memang itulah seharusnya karena kita berada dalam label sahabat. Huftt..

“Dia lagi PDKT sama orang tuh Fy. Aku bilang juga kejar, kalah start kan jadinya.” Celetuk Ica. Ah, mereka gak akan pernah mengerti.

“Kejar apanya sih? Jadi sahabat aja udah cukup buat aku.” Elakku dengan cepat.

“Tiap hari bareng, ngobrol gak di kelas gak di luar kelas ya always, duduk kayak yang sebelahan gitu dia depan kamu belakang, hampir 3 tahun kalian udah kayak perangko tahu gak? Kemana-mana nempel mulu, ekstrakurikuler samaan. Ah kalau aku sih udah jadi kali.” Ujar Damay panjang lebar. Aku lagi-lagi menggerutu tak jelas. Memangnya semudah itu menjaga persahabatan?

“Duh, kalian ngomongnya makin ngaco tahu gak? Oke, aku suka sama dia. Aku gak bisa jaga perasaanku dengan baik karena aku suka sama sahabat aku sendiri. Tapi asal kalian tahu, aku gak mau rusak persahabatan yang udah lama aku jaga. Lihat aja kamu May, pacaran udah hampir setahun sama Aris eh pas udah putus kayak yang musuhan gitu. Aku gak mau.”

“Eh, kok bahas soal aku lagi sih? Ah jadi BT deh kamu ngomongin dia lagi.” Damay lantas memasang ekspresi ngambek paling mujarab membuat aku merasa bersalah.

“Tuh kan, denger namanya aja udah kayak gitu. Oke, aku minta maaf.”

“Jadi intinya kamu mau lepasin dia buat orang lain gitu Fy?” Tanya Ica. Aku diam, sebenarnya setiap pertanyaan itu muncul darahku kembali berdesir hebat, jantungku memompa secara tak karuan. Tapi nyatanya aku tersenyum. Entah bagaimana aku bisa tersenyum setulus ini.

“Dia sahabatku, aku mau dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Aku cukup diam dan memperhatikan Ca. Kalau memang jodoh pasti nanti ada saatnya. Aku gak mau pacaran atau apalah itu yang bisa merusak apa yang selama ini aku jaga. Aku mau jaga perasaan aku, sebisa mungkin aku gak mau memperlihatkan apa yang aku rasakan pada siapapun tapi ternyata aku gagal karena kalian dengan mudahnya bisa tahu.” Aku menarik nafas sekuat yang aku bisa. Rasanya sesak entah karena alasan apa. Mereka masih saja memperhatikanku dengan diam.

“Kalian boleh bilang aku aneh atau apalah karena aku emang gak mau yang namanya pacaran. Cukup temenan, sahabatan dan gak ada yang namanya musuhan. Setiap orang kan Allah ciptakan buat berpasang-pasangan, pasti nanti kalau udah waktunya Allah kasih satu orang lelaki yang terbaik buat aku. Aku gak mau muluk-muluk, aku mau jaga apa yang seharusnya aku jaga. Simpel kan?” Akhirnya, apa yang selama ini aku pendam tercurahkan sudah. Rasanya setiap kata yang kuucapkan dari lidahku sendiri itu berdampak luar biasa pada apa yang ada didalam hatikecilku. Ada sesuatu yang aneh yang akhirnya menyumbat pernafasanku membuat aku lagi-lagi menghela nafas kuat-kuat. Magic, seperti biasa.

“Aku gak tahu harus ngomong apalagi Fy. Kamu.......kuat” Ica menggeser duduknya lebih dekat padaku. Seolah menguatkan, ia menggenggam tanganku dan mengelus-elusnya. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana bisa mata Damay berkaca-kaca hanya dengan ucapanku. Ia juga ikut memelukku erat. Apa yang terjadi?

“Ekhm, kaum kalian rawan baper ya?” Celetuk Alvin, ia orang yang tadi aku perhatikan sudah berdiri beberapa langkah tepat dihadapanku bersama Vivi. Ya, Vivi ekhm ‘temandekatnya’.

“Kamu dari kapan ada disini Al?” Tanyaku. Gugup, aku benar-benar gugup bak pencuri yang ketahuan mencuri.

“Baru aja, habisnya tadi pas aku panggil nama kamu dari lapangan gak ada yang nyahut. Eh, ternyata pada peluk-pelukan gitu gak ajak-ajak banget sih. Kamu curhat-curhatan sama mereka ya Fy? Kok aku..”

“Kamu kenapa panggil aku Al?” Langsung saja aku potong ucapan panjang lebarnya seperti biasa. Er.. kadar bawel anak ini sepertinya bertambah. Damay dan Ica tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Diam, seolah hanya ada aku dan Alvin dikoridor ini. Dan aku hanya bisa menikmati magic itu kembali.

“Kamu ajarin anak-anak smaphore gih. Aku mau ngajarin Vivi morse soalnya.” Ujarnya, ada makna tersirat dari matanya dan aku mengerti. Aku bahkan merasakan bahwa genggaman Ica semakin kuat saja. Aku tersenyum, ya sudah sepantasnya aku tersenyum.

“Loh Ruslan kemana emang? Biasanya kan kalau gak kamu ya dia.” Aku berusaha melepaskan pelukan kedua sahabatku. Tersenyum penuh arti pada mereka berdua, memberitahu mereka kalau aku baik-baik saja.

“Dia dipanggil kak Duta. Gak apa-apa kan Fy?”

“Oke, Eng... Vi, kamu yakin diajarinnya mau sama Alvin si makhluk pluto? btw peluitnya ada berapa tuh? Jangan sampai pake satu buat berdua ya, bisa-bisa entar...”


”IFY!” Seru Alvin. Ia mencak-mencak tak karuan, sedangkan aku segera berlari menuju lapangan sambil terus mengejeknya, memeletkan lidah padanya pertanda bahwa kali ini aku menang. Ya, aku memang menang. Menang dalam bersandiwara, menang dalam hal menutup rapat-rapat perasaan bergejolak itu. Biarlah, biarlah semuanya berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan. Aku rela, aku pasrah hanya pada-Nya. Asal aku masih berada disampingnya, menjadi sabahabat baiknya, dan yang paling penting ikut bahagia karena ia bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar