Minggu, 09 Juli 2017

Kamu, Sahabat Pemilik Warna Abu-Abu

          Suara camar yang terdengar merdu membuat mata Freya berbinar. Saat ia mengedarkan pandangan, pohon cemara yang rimbun tersaji begitu saja disekelilingnya. Suara riak air yang Freya yakini berasal dari sungai kecil di bawah perkemahan benar-benar menambah keasrian tempat ini. Dengan bersenandung riang Freya berjalan memasuki area perkemahan seorang diri. Teman-temannya yang lain telah terlebih dahulu memasuki wilayah ini beberapa menit yang lalu meninggalkan Freya dengan euphorianya sendiri. Sambil bersiul tak kentara Freya berjalan menyusuri rumput-rumput liar, ia tersenyum simpul saat melihat tenda yang baru dibangun dengan warna merah muda disetiap sisinya. Itu dia tenda SMP Nusa Bangsa Putri!

“Fre, kesini! Kok bengong disana? Bantuin yang lain bikin parit” Seru Shilla sambil melambai-lambaikan tangannya pada Freya. Ia terlihat kelimbungan membawa beberapa tongkat tinggi untuk lomba peeoneering. Dengan sekali anggukan Freya berlari memasuki tenda dan mengambil beberapa pancu.

“Paritnya dibikin satu keliling tenda atau sisi-sisinya aja?” Tanya Freya.

“Sekeliling aja Fre kecuali depannya, di belakang udah ada Ray yang bantuin.”

“Oke!”

Dengan semangat Freya menghampiri Ray yang sibuk menggali tanah.

“Hay Ray!” Seru Freya lalu ikut berjongkok di samping Ray.

“Gimana seru kan?” Tanya Ray. Freya mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.

“Ini perkemahan pertama jadi ya harus berkenang dong. Sesuatu yang namanya awal pasti bakal jadi kenangan tak terlupakan. Makanya karena tak terlupakan aku mau ini jadi perkemahan terbaik. Dan seperti yang kamu bilang sesuatu yang baik itu berawal dari semangat yang kita punya. Jadi aku bakal kerahkan semua semangat aku untuk perkemahan ini, hehe”

Ray menanggapi dengan senyum lebarnya lalu mengancungkan kedua ibu jarinya pertanda bahwa ia juga setuju dengan penuturan gadis di depannya.

+++

          Hampir semua teman Freya sibuk dengan kegiatan berdandan. Freya benar-benar dibuat pusing saat ia harus bolak-balik bertemu Bu Uci untuk meminta perlengkapan make up. Sore ini akan dilaksanakan lomba festival antar sekolah. Freya yang menjadi pembawa spanduk tidak berdandan berlebihan, hanya memakai baju batik dengan polesan bedak secukupnya. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang memerlukan banyak akseseoris untuk perlengkapan perannya masing-masing. Sekolah Freya mengusung tema ’Keluarga Malarat’. Sedikit aneh memang, tapi ini akan menjadi tema paling unik dan sederhana juga penuh nilai-nilai perjuangan dari pada sekolah-sekolah lain yang terkesan glamour. Freya sendiri sampai tertawa terpingkal-pingkal saat pertama kali mendengar tema ini. Regu putra dan regu putri digabung dan beberapa orang menjadi pasangan keluarga malarat. Misalnya saja Shilla dan Riko, mereka layaknya keluarga sederhana dengan Adi ditengah-tengah mereka. Laki-laki paling mungil dari regu putra itu hanya memakai kain putih berbentuk pempers untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Hal lain yang membuat mata Freya terbelalak adalah saat melihat Marcel yang berpenampilan menjadi ibu-ibu hamil. Dia memakai daster panjang dengan perut buncit ditambah dengan kerudung kumal dan bibir merah merona, berhasil membuat orang-orang disekitarnya tergelak. Disamping Marcel ada Alvin dengan pakaian koko sebagai andalannya. Ia terus menggoda Marcel untuk mendekat kearah Freya, membuat Freya sedikit geli melihatnya.

“Fre, masa Acel maunya deket-deket aku nih.” Seru Alvin sembari mendorong tubuh Marcel untuk mendekat pada Freya.

“Ih Vin, malu tahu.” Gerutu Marcel dengan wajah memerah.

“Cocok kok Cel, lucu haha..” Celetuk Freya asal membuat Marcel semakin mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ah Freya, minta tissu! Gak mau tahu harus ada tissu, enak banget ngetawainnya. Ini bibir udah kayak dilumuri krim kue tahu.” Gerutu Marcel.

“Iya, iya aku cari dulu.” Freya merogoh saku celananya, dapat!

“Nih tissunya. Tapi kalau lipstiknya mudar bahkan habis aku bilangin Bu Uci.” Ancam Freya.

“Gak usah pake tissu Cel, bagusan gitu cantik kayak badut ancol.” Celetuk Alvin.

“Bahkan kayaknya kecantikan Acel lebih dari badut ancol deh apalagi itu pake bola-bola dipipi, lebih plus-plus.” Freya menimpali.

“Tos!” Seru Alvin lalu bertosria dengan Freya, sama-sama menggoda Acel dengan berbagai macam hal-hal aneh.

“Sahabat kurang ajar.” Gerutu Marcel disela-sela membersihkan bibirnya yang merah merona.

+++

          Freya tersenyum simpul. Ya, ia ingat kenangan terindah ini. Saat-saat dimana ia terus menampilkan senyum paling manis yang ia miliki. Menertawakan teman-temannya yang terlihat aneh sepanjang jalan dan akhirnya mereka memenangkan lomba itu. Sungguh, Freya ingin semuanya berjalan mulus, tak ada batu yang mampu menghalanginya sehingga membuat Freya tersandung. Tapi, kenangan semanis apa pun itu pasti terselip hal-hal yang tak diinginkan yang membuat siapa pun bahagia lalu terluka dalam waktu bersamaan, dan itulah yang dialami Freya. Freya menghela nafas beratnya, meneguhkan hatinya untuk membuka halaman selanjutnya dari buku diary yang sesaat lalu ia dekap erat. Membuka kembali memorinya yang semula ia simpan dikepala kini telah berpindah dihatinya, membuatnya melekat dan Freya tak yakin akan bisa melupakan itu semua.

+++

          Freya berjalan di antara cahaya remang-remang. Beberapa suara berisik menghentikan langkah Freya tepat di samping tenda regu putra SMP Nusa Bangsa, sekolahnya.

“Vin, masa tadi malam Viola mimpiin kamu.” Ujar seseorang dari dalam sana.

“Ciyyee Viola..” Tambah yang lain.

Freya yang semula ingin berjalan kembali berhenti. Ia mendengar suara Alvin di dalam sana. Apa Freya sedang bermimpi? Alvin sedang mengungkapkan sesuatu di dalam sana. Dari balik tenda Freya bisa mendengar penuturan itu walau terasa samar, sesamar hatinya. Tubuhnya terpaku seolah tak mampu lagi untuk sekedar berjalan. Nafasnya sesak, ada yang salah di dalam dadanya. Apa di dalam sana ada area tinju? Kenapa rasanya bernafas saja ia tak mampu? Freya mencengkram dadanya kuat-kuat. Tangan dan bibirnya bergetar padahal ia sama sekali tidak kedinginan.

Freya terkesiap saat Alvin, Viola dan beberapa temannya keluar dari balik tenda. Freya tidak tahu harus melakukan apa. Ia tetap berdiri terpaku dengan tatapan miris. Alvin dan Viola melewatinya begitu saja saat Freya hendak mengeluarkan suara. Freya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Apa ia terlihat setransparan itu sehingga hanya dilewati begitu saja. Apa ia tak kasat mata hanya sekedar untuk dilihat. Freya hanya menginginkan sebuah sapaan, tak lebih. Tak pantaskah untuk saat ini Freya mendapatkan itu semua? Freya tahu untuk saat ini ia tak terlalu berharga hanya untuk sekedar disapa. Tapi apa seorang sahabat mengenal waktu untuk menyapa sahabatnya yang lain? Freya memejamkan matanya sejenak, ini tidak seharusnya terjadi. Freya seharusnya sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Ini harusnya baik-baik saja. Ya, baik-baik saja.

+++

“Hei kamseupcewet, bengong mulu.” Seru seseorang entah dari mana. Freya yang terlonjak kaget mendengar sapaan sialan itu segera menutup buku diarynya. Matanya menoleh kebelakang mencari sumber suara.

“Duar!!” Itu suara Alvin, dan ia ada tepat didepan bangku Freya. Freya hanya menatapnya sekilas lalu kembali membuang muka.

“Celangak-celinguk mulu, aku ada di depan juga.” Dumel Alvin tak jelas.

“Apaan tuh tadi kamseupcewet? Ketularan gaya ngomongnya Angel difilm PAA deh, ngikutin aku suka nonton blink ya?” Freya bersikap senormal mungkin saat sesuatu di dalam dadanya kembali bergetar.

“Ye.. enak aja. Mama tiap malem kan hobinya nonton sinetron ya jelas lah tahu. Kamu kan cerewet ya udah aku kasih julukan kamseupcewet.”

“Sialan! Eh dari pada kamu kamseuwel.”

“Apaan tuh?”

“Kampungan Sekali Udik Bawel.”

“Freya...”

“Wlee..” Freya menjulurkan lidahnya membuat keduanya tertawa.

“Bentar lagi kita pisah Fre.” Ujar Alvin sesaat setelah mereka tertawa. Freya mendesah berat. Apa itu tandanya ia bisa berharap bahwa dirinya tidak akan terlupakan begitu saja oleh orang yang berada didepannya kini?

“Alvin!” Seru Marcel dari kejauhan. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Alvin dan Freya yang sama-sama mengernyit.

“Apa? Kangen?” Tanya Alvin asal sesaat setelah Marcel duduk disampingnya.

“Dih kepedean. Kamu lupa? Kita ditunggu anak-anak di depan. Besok ijazahnya baru bisa diambil jadi sekarang udah boleh pulang.” Ujar Marcel.

“Besok ya? Fre, kamu kesekolah besok?” Tanya Alvin.

“Engg..kayaknya enggak deh, besok aku harus ke SMA Arwana.” Jawab Freya.

“Aku juga harus pulang sekarang kayaknya, mama udah nunggu di rumah katanya minta dianter belanja.” Tambah Freya.

“Kok cepet? Kamu lupa ya?” Ceplos Alvin memasang wajah kesalnya, berarti ini hari terakhir mereka bisa bersama di Nusa Bangsa sebagai murid sekolah.
Freya tersenyum, ia beranjak dari duduknya, tak memperdulikan Alvin yang memasang muka aneh itu.

“Aku gak akan pernah lupa. Emangnya kamu yang gak pernah inget harinya aku.” Ujar Freya masih dengan senyum manisnya. Alvin terlihat salah tingkah mendengar penuturan Freya. Ia menampilkan sederet gigi pepsodentnya sambil mengacungkan tangannya yang berbentuk huruf ‘V’.

“Happy birthday buat besok Alvin, tercapai cita-cita jadi dokternya ya. Aku takut besok gak bisa ngucapin langsung jadi sekarang aja, hehe” Freya mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Alvin dengan antusias.

“Itu baru sahabat.” Ujar Alvin lalu ikut berdiri. Freya mengangguk. Ya, ia dan Alvin harus tetap menjadi sahabat. Freya segera membalikkan tubuhnya dan berlari tergesa-gesa setelah melambaikan tangan pada dua anak laki-laki itu. Ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya, dan Freya tak yakin jika ia berlama-lama disana ia mampu menetralisir perasaannya tanpa diketahui. Tapi Freya harus bangga pada dirinya sendiri. Caranya berbicara tadi sungguh sempurna seperti Freya yang biasanya. Ini ternyata lebih berat dari pada yang Freya duga. Sifat Alvin yang layaknya bunglon yang tak hentinya berubah membuat Freya harus siap dengan hatinya yang ditarik ulur seperti layang-layang. Tapi bagaimana pun sikap Alvin, Freya tetap dengan sikapnya, tetap dengan topeng kebanggaannya. Apapun alasannya tak ada yang mampu memperbaiki serpihan hatinya, kecuali Alvin yang mampu mengacak-acak dan memperbaikinya dalam satu waktu.

Ini rumit, rasa itu ada namun benar-benar tak kasat mata. Tak ada warna yang mampu menjelaskan semuanya. Ia abu, remang dan sama sekali membingungkan. Freya dan Alvin seperti dua buah titik yang berdampingan tapi tak ada garis yang mampu mengaitkannya. Setiap Freya bertemu dengannya ia tetap dengan tegas meyakinkan hatinya bahwa Alvin adalah sahabat abadinya. Walau ia tak mengelak perasaannya mengatakan Alvin berwarna abu, tak jelas seolah ada yang memberontak di dalam sana untuk tidak membangun benteng itu lebih tinggi, dihatinya. Perasaannya yang dulu berwarna abu masih tetap sama, dan itu benar-benar membuatnya membeku. Hatinya mengeras tak ingin mengatakan ‘ya’.

Jika diibaratkan sebuah tumbukan, Alvin dan Freya akan terlenting sempurna, tak mau sekedar diam untuk kembali saling sapa. Satu hal yang membuat semua itu terjadi, Freya yang terlalu kuat atau Alvin yang tak mau kuat.

Drrrtt.. Drrrtt..

1 pesan

Happy endingkah?
Ray

Freya tersenyum simpul. Ya semuanya tetap happy ending. Tak ada akhir yang disebut tak bahagia. Semua berjalan sesuai dengan apa adanya. Masih ada hal-hal baru di luar sana yang akan Freya lewati. Ini akan menjadi akhir yang indah apapun alasannya.

Selamat datang dunia baru, aku datang dengan tidak akan pernah melupakan waktuku. Aku tahu semuanya terlalu berharga maka dari itu aku kan menyimpan semuanya, tak hanya tertulis dihalaman usang buku diaryku tapi juga dihatiku. Untuk kamu, sahabat pemilik warna abu-abu.







Dulu, aku menorehkan sebuah nama dalam buku diary setiap kejadian yang membuat tawa dan pilu, hingga kejadian yang berlangsung saat perpisahan pada tahun 2012 memisahkan canda dan tawa di antara kita. Aku rindu kamu.

-9 Juli 2012-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar