Rabu, 13 September 2017

Perjodohan dan Pertikaian

Aku seringkali menolak, menolak dengan cara halus tapi menyakitkan. Menjauh tanpa alasan dan tak memberi secuil harapan adalah kesanku saat seseorang mulai mendekatiku. Ku kira penolakan itu rasanya biasa saja, ternyata luar biasa..

Ify melangkahkan kakinya dengan tergesa sepanjang koridor kampus, sesekali ia melirik jam berwajah doraemon di pergelangan tangannya, pukul 06.45 pagi. Mampus ia sudah telat 15 menit dari waktu yang seharusnya. Berulangkali ia menggerutu mengenai jadwalnya yang teramat ‘rajin’. Sialan, bahkan anak sekolah saja tidak se’rajin’ ini.

Beberapa langkah dari pintu kelas tempatnya belajar, ia membungkukkan badannya sebentar. Tidak lucu jika ia masuk dengan nafas yang terengah-engah bak di kejar hantu. Setelah nafasnya mulai teratur, barulah ia memasuki kelas dengan tampang datar dan duduk di kursi paling belakang tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Beruntung sekali, pintu kelas berada di belakang tidak seperti biasanya yang selalu di depan dan langsung disuguhi oleh pemandangan seorang dosen yang tengah mengajar. Teman-teman meliriknya sekilas lalu kembali membuang muka dan beralih menatap sang dosen dengan perhatian penuh.

“Lo kemana aja? Jam segini baru nyampe, untung dosen yang ini calm down orangnya.” Bisik Ray, teman sekelas Ify yang kini tengah duduk di sampingnya.

“Lo juga palingan telat, buktinya lo duduk paling belakang berdua doang sama gue.” Ify  membalas sapaan itu dengan acuh tak cauh.

“Ye, gue sih on time, pas di jam 06.30.”

“Tapi tetep aja si dosen rajin ini udah masuk kelas duluan dari pada lo.”

“Ya salahin dosennya lah kalau gitu, yang jelas gue udah taat aturan masuk diwaktu yang tepat.”

“Hush berisik.” Tiba-tiba saja Alvin, sang ketua kelas menolehkan mukanya ke arah Ify dan Ray yang tengah beradu argumen, hal itu membuat mereka refleks menutup mulut dan memasang wajah tak bersalah.

“Assalamualaikum, tok tok atok atok”.

“Suara apaan tuh? Ipin Upin?” Ray kembali berbisik, Ify yang ditanya hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu tak peduli.

“Sebentar ya, hallo.” Semua mahasiswa yang tengah fokus pada layar persentasi langsung saja mengalihkan perhatiannya pada sang dosen yang tengah mengangkat telephone.

“Hahahaha.. Gila tuh suara panggilan telephonenya pak Komar.” Ray lagi-lagi berbisik, kini suaranya malah terdengar sedang menahan tawa. Hal itu juga menular pada Ify, ia sebisa mungkin menahan senyum lebarnya sambil menutupi wajah.

Suasana kelas mulai riuh, semua teman-teman Ify mulai meletakkan balpoin yang sedari tadi setia digenggamnya dan bercengkrama dengan siapapun disekelilingnya,

“Ekhm, ada yang habis ke kondangan tuh.” Celetuk Shilla yang tengah duduk di kursi paling depan. Semua mahasiswa secara spontan menoleh ke arah Shilla dan memasang wajah tak mengerti dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Tuh.” Tunjuk Shilla ke arah Ify dan.... Alvin? Ify yang merasa dirinya ditunjuk secara spontan langsung mendongakkan kepalanya ke kursi didepannya, kursi yang di duduki Alvin. Dan saat itu juga Alvin menolehkan kepalanya ke arahnya, mereka berdua sama-sama mengernyit heran lalu saling memperhatikan satu sama lain.

“Baju kalian kok bisa couple-an gitu sih? Ungu lagi, ih gemes gue lihatnya haha..” Ucapan Shilla seolah menyentak Alvin dan Ify yang tengah saling memandang satu sama lain. Ify meringis melihat kenyataan bahwa bajunya dan Alvin...serasi? Ia juga mulai gelisah saat melihat rona merah diwajah Alvin yang muncul tanpa malu-malu. Ify menundukkan matanya, jangan sampai ia dijodoh-jodohkan dengan Alvin seperti saat ia masih di bangku SMP, ia tidak mau menyakiti hati pemuda itu lagi.

“Ciyeeee” Teman-teman sekelas serempak saling melempar godaan pada mereka berdua, bahkan Ray yang sedari tadi mengganggu Ify dengan bisikannya terus menyenggol lengan gadis itu saking gemasnya.

Ify yang tidak tahu harus menanggapi seperti apa hanya menggaruk-garuk tengkuknya tak sadar. Sebenernya ia tidak begitu peduli, hanya saja saat melihat Alvin yang sedari tadi seperti cacing kepanasan, membuatnya ikut merasa tidak nyaman.

“Kalian iri aja sih” Celetuk Ify yang membuat suasana kelas semakin riuh.

“Ekhm” Suara deheman sang dosen membuat semua mahasiswa kembali bungkam dan mulai sibuk dengan peralatan belajar. Alvin tiba-tiba saja berdiri dan mengacungkan tangannya meminta izin untuk ke kamar mandi membuat semua teman-teman Ify kembali terkikik. Ify yang kembali mendengar ocehan tak penting itu hanya melengos tak peduli. ‘biasa aja kali, jangan kekanak-kanakkan deh’ gerutunya dalam hati.

@@@

“Fy, kok lo bisa samaan sih bajunya sama si Alvin? Janjian beneran kalian berdua? Wajahnya dia merona gitu kan jadi makin gemes gue ngeliatnya.” Cerocos Via sambil terus menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Ify yang tergesa.

“Dih, baju beginian beli di pasar juga banyak. Jangan ngebesar-besarin deh.” Ucap Ify acuh tak acuh, pandangannya ia edarkan ke kanan dan ke kiri seolah tengah mencari sesuatu.

“Yakali sampai warnanya juga bisa sama gitu, gue curiga dia suka sama lo gara-gara liat warna mukanya hahaha..” Gelak tawa Via membuat Ify mendengus sebal dan mulai berkonsentrasi menatap teman karibnya itu. Ify menyilangkan tangannya di dada dan memasang wajah tak peduli.

“Denger ya Via, gue kenal Alvin tuh dari SMP. Dari dulu sampai sekarang wajahnya gitu-gitu aja, kalau dipojokkin merah sih udah biasa, dia sering banget masang senyumnya bersenti-senti sampai gue gak pernah ngelihat dia marah sekalipun. Gue curiga dia masang benang di wajahnya jadi senyum kegadisannya gak pernah pudar.” Cerocos Ify panjang lebar. Mendeskripsikan Alvin sesuai dengan persepsinya.

“Lo bilang senyum dia kegadisan? Manis gitu juga. Sarap lo, kalau dia denger gim.. ekhm.” Via tiba-tiba saja menghentikan ucapannya dan mulai mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri seperti yang dilakukan Ify sebelumnya.

“Kenapa lo? Lo bilang dia manis? Kalau pahit sih gue setuju atau jangan-jangan lo su..”

“Fy.” Ujar seseorang di belakang Ify membuat Ify menghentikan agresi mulutnya, ia menutup mulutnya rapat-rapat dan melototkan matanya pada Via yang meringis minta maaf.

Rasanya berat untuk membalikkan tubuhnya bagi Ify, ia menghela nafasnya barang sejenak lalu memasang senyumnya yang paling mempesona. Dengan ragu ia membalikkan badannya menghadap Alvin yang berdiri di belakangnya.

“Gue Cuma mau balikin buku, makasih.” Ujar Alvin singkat. Tak ada senyum diwajahnya, catat. Seorang Alvin yang tak pernah berhenti tersenyum saat berbincang dengan orang lain kini menatap Ify kaku lalu menunduk sebentar untuk pamit padanya dan berlalu begitu saja di hadapannya. Ify menganga melihat Alvin yang berubah sedemikian rupa itu. Ia menggaruk-garuk lehernya tak mengerti tapi matanya menyiratkan rasa bersalah yang sangat besar.

“Makanya tuh mulut dijaga.” Cibir Via.

“Itu beneran si Alvin kan barusan?” Tanya Ify tak percaya.

“Setiap orang punya sisi sensitivitas Fy, setiap orang punya ketersinggungan. Walaupun kadarnya berbeda tetap saja mana ada sih hati manusia yang sekuat baja. Baja kalau terus dipanasin juga kan bakal rapuh. Kalaupun dia termasuk orang yang kuat dan gak pernah marah bukan berarti dia gak bisa marah. Bahkan orang yang jarang marah cenderung marahnya mereka itu melebihi dari marahnya kita.” Via menatap Ify perihatin. Sudah menjadi hal yang biasa jika Ify dan Alvin dijodoh-jodohkan oleh teman-teman satu sekelasnya sedari SMP, bahkan guru-guru pun terkadang ikut mengompori. 

Hal yang tak habis fikir dalam otak Via adalah bisa-bisanya mereka satu kelas dari zaman SMP hingga sekarang, bisa-bisanya Ify dan Alvin yang jarang bertukar sapa tapi sering dikaitkan dalam berbagai masalah seolah ada benang tak kasat mata dalam diri mereka berdua. Bertahun-tahun lamanya menjadi teman karib Ify membuat Via benar-benar mengenal Ify luar dalam. Ify yang sering tak ambil peduli, Ify yang seenaknya jika berhadapan dengan orang lain, dan Ify yang seringkali menyakiti hati Alvin.

“Udahlah, palingan dia lagi capek hehe” Ify mengelak dengan hatinya sendiri. Ia memasukkan buku pemberian Alvin kedalam tasnya dengan tangan kaku, ia juga berjalan tersendat-sendat saat di lorong kampus, Via melihat semuanya dan hanya menghela nafas berat. Hari ini merupakan puncak dari kesabaran Alvin sepertinya, dan sebagai sahabat Ify ia tak bisa menyalahkan Alvin karena semuanya memang salah sahabatnya sendiri.

@@@

Ruangan kelas di jam terakhir tak terasa padat seperti biasanya. Sepertinya anak-anak semakin hari malasnya semakin bertambah. Ify, Ray, Via dan Shilla tengah asyik menonton sebuah film dari laptop Shilla. Mata mereka sesekali mengernyit melihat adegan pembunuhan yang membuat perut mual. Karena tak tahan dengan setiap adegannya, Ify akhirnya undur diri dan memutuskan untuk duduk di kursi belakang. Ia mengeluarkan i-pad nya dan memasang headset dengan gestur yang sangat santai. Jarinya bergerak seirama dengan lagu yang didengarnya, matanya juga ikut terpejam dan menghirup udara sebanyak-banyaknya menikmati suasana kelas yang lenggang.

Suara tas yang menyentuh meja dengan cukup keras membuat Ify membuka matanya dengan ekspresi malas. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Alvin yang tengah meringis seolah meminta maaf pada teman-temannya karena telah mengganggu aktivitas mereka.

“Lo bawa apa aja sih vin? Suara tasnya gak nyantai gitu.” Celetuk Ray.

“Hehe.. bawa bom nih makanya berat banget.”

“Eh, gila lo alih profesi jadi teroris bro.”

“Dih, lo percaya aja sih sama bualannya si mulut cupu, eh pis vin pis.” Debo yang duduk di sebalah Ify menanggapi dan berakhir dengan cengiran lebarnya.

“Kalau gue cupu gak mungkin jadi ketua kelas.” Balas Alvin sok galak.

“Ya makanya karena lo cup..”

“De” Tiba–tiba saja Ify memotong ucapan Debo dan membuat semua yang berada di kelas mengernyit heran, biasanya Ify adalah orang pertama yang selalu menghujat Alvin dengan kata-katanya.

“Gue bawa cemilan nih, ada yang mau?” Tanya Ify pada setiap teman-teman sekelasnya. Debo yang mendengar tentang makanan langsung saja menyahut dengan antusias, ia mengulurkan tangannya mengambil tas Ify dan mulai mencari-cari cemilan yang dimaksud oleh Ify.

Aktivitas di kelas berlangsung seperti putaran roda yang lambat saat Ify mengambil kue kering dari dalam toples makanannya, tangannya tanpa ragu terangkat untuk menyuapi Debo membuat mata pemuda itu  bersinar tanpa malu.

“Ekhm, katanya nawarin tapi malah main ekhm.” Celetuk Ray membuat yang lain tertawa. Ify memutar kedua bola matanya lalu mengalihkan pandangannya ke sekumpulan orang-orang pecinta film horor –Ray, Via, Shilla, dan...Alvin- matanya menelisik setiap raut wajah yang ditampilkan pemuda itu –Alvin- lagi-lagi ia melihat kekecewaan dari matanya, dan lagi-lagi ia tak bisa melihat senyum aneh milik Alvin.

“Etdah sekarang malah tatap-tatapan kayak film India, bentar lagi kejar-kejaran deh kalian berdua.” Celetuk Ray sekali lagi.

“Ah, Ipy selingkuh sama koko apin. Atau malah gue selingkuhan kalian berdua?” Ujar Debo dengan mata polosnya.

“Ih, kalian apaan sih.” Ify seperti biasa mengelak dengan gesturnya yang terlihat tengah menahan mual, ia lagi-lagi tak mau peduli dengan kondisi disekitarnya dan mulai memakan kue keringnya dengan rakus. Alvin masih menatapnya dengan seksama, hal itu membuat Ray semakin menjadi-jadi.

“Eh, si couple cemburu nih piong”

“Iya Fy, jangan bikin suasana hati doi kusut, kalian kan udah serasi banget gitu sama baju couple.” Shilla ikut-ikutan menanggapi.

“Ungu, couple, uh cocwit.” Ujar teman-teman yang sudah berada di kelas itu dengan serempak.

Ify sudah tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi setelahnya, tubuhnya kaku dan kue kering dalam mulutnya berhenti ia kunyak selama beberapa detik saat melihat Alvin dengan tergesa membuka bajunya dan menyisakan teriakan histeris dari para perempuan di kelasnya. Pemuda itu seolah tak peduli dengan keadaan disekitarnya, padahal beberapa detik yang lalu ia telah memperlihatkan tubuh telanjang dadanya dan kini ia mulai membungkus tubuhnya dengan jaket hitam favoritnya.

Ify yang melihatnya tanpa berkedip langsung menggertakkan giginya dan mengatup rahangnya rapat-rapat, ia berdiri dengan refleks dan menatap Alvin penuh amarah. Semua orang yang berada di kelas terdiam saat merasakan suasana yang tegang diantara kedua makhluk adam dan hawa itu.

“Maksud lo apa?” Tanya Ify berapi-api.

“Maksud gue? Gue gak ada maksud apa-apa sama sekali. Bukannya lo risih ya kalau teus-terusan digodain sama gue, jadi gue ambil tindakan biar telinga lo bersih dari cuap-cuap yang menurut lo gak penting.” Jelas Alvin panjang lebar, membuat semua orang menahan napas.

“Tapi gak gini caranya.” Seru Ify.

“Terus gue harus gimana? Ngomong kalau semua ini omong kosong, ngomong kalau gue dan lo itu kayak bumi sama langit, ngomong kalau gue cowok cupu dan lo cewek eksis, terus ngomong kalau kita sama sekali gak cocok jadi berhenti buat..” Ucapan alvin tiba-tiba berhenti, ia seolah baru menyadari bahwa kata-katanya itu salah. Napasnya yang memburu sejak berdebat dengan Ify juga mulai tercekat ditenggorokan, matanya terpejam merilekskan tubuhnya. Ia perlahan membalikkan tubuhnya dan duduk dengan diam dibangkunya, matanya terluka dan Ify juga merasakan hal yang sama. Suasana kelas yang sepi membuat semua orang segan sekaligus canggung memberikan komentar, tak ada satupun yang mengeluarkan suara selain nafas Ify yang masih memburu. Ify telah membuat luka Alvin membengkak, Ify telah membuat monster dalam lidah Alvin dan Ify telah membuat hati Alvin terkoyak. Ia menyesal.

Ify mulai duduk dibangkunya, tak ada tanda-tanda bahwa Alvin akan membalikkan tubuhnya dan berkata bahwa tadi ia hanya bercanda, tak ada tanda-tanda teman-teman akan mengejeknya dan berkata bahwa ia dan Alvin adalah pasangan yang paling serasi. Hingga seorang dosen masuk ke kelas, semua orang tetap diam termasuk dirinya.

Lidahnya kelu hanya untuk mengucapkan kata maaf, tangannya terkulai lemas begitu saja di meja, ia mulai merasakan setiap aliran darah yang mencekiknya seolah saluran darah itu menipis setiap detiknya, dadanya bergejolak hebat bahkan ditelinganya hanya terngiang kata maaf yang tersendat ditenggorokkan, ia sama sekali tak bisa fokus pada penjelasan dosen di depan kelas. Matanya menelusuri setiap inchi tubuh belakang milik Alvin, dari belakang saja Ify masih bisa melihat luka itu menganga lebar. Matanya terpejam, ia telah membunuh secara pelan-pelan perasaan Alvin padanya.

Sampai kelas selesai, tak satupun teman-teman menyapanya mungkin karena ia terus memejamkan mata. Saat Ify membuka matanya, ia tak lagi melihat teman-temannya dikelas ini yang tersisa hanya Via. Gadis itu berdiri dihadapannya dengan wajah kecewa, bahkan sahabatnya pun telah kecewa padanya. Ify menghela nafas berat. Via berjalan perlahan kearahnya dan memeluknya secara tiba-tiba membuat tubuh Ify kaku, berselang beberapa detik ia merasakan semua organ tubuhnya bergetar, Ify sudah menahan tangisnya selama 2 jam di kelas ini. Tangisnya pecah begitu saja dalam dekapan Via.

“Kalau lo mau nangis, nangis aja. Gue tahu lo udah nahan air mata lo selama 2 jam kan?” Ucap Via dengan suara keibuannya.

“Tapi dia udah nahan segalanya selama 6 tahun, gue...nyesel Vi, gue”

“Penyesalan selalu datang dibelakang Fy.” Via mengelus punggung Ify secara perlahan, berusaha membuat Ify kembali tenang. Namun apadaya tangisan Ify malah semakin keras. Via menghela nafas berat, ini yang ia takutkan dari dulu, dan semuanya terjadi tanpa ia berbuat apa-apa untuk sahabatnya.

“Alvin..” Lirih Ify dalam tangisannya.

“Lo harus minta maaf Fy.”

“Emang dia mau maafin gue, gue udah sangat keterlaluan.”

“Lo udah kenal Alvin lama kan?”

“Tapi gue cuma tau Alvin dari luar, gue bener-bener gak kenal sama Alvin seperti yang biasa gue omongin selama ini.” Ify merasa semakin bersalah.

“Lo harus coba, gue yakin dia mau maafin lo. Lo harus buat hubungan kalian membaik, dan satu pesan gue Fy. Jaga semua orang yang ada di dekat lo, jangan sampai mereka melangkah terlalu jauh dari jangkaun lo, lo hanya akan menyesal nantinya kalau lo tahu mereka udah gak ada lagi di samping lo.”


Ucapanmu adalah pribadimu, mulutmu adalah harimaumu, dan semua tentangmu tergantung pada dirimu sendiri, kamu yang menentukan penilaian orang lain terhadapmu dan kamu pula yang menentukan akankah mereka mau mendekatimu atau bahkan membiarkan mereka perlahan-lahan menjauhimu.






Terimakasih kepada sosok inspiratif yang telah mengenalkan saya bahwa menjadi bisu kadang lebih baik dan menjadi tuli kadang lebih bijak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya atas kehadiran saya. Hanya satu pinta untuk hal ini dari saya, jika masih menganggap saya adalah teman maka jangan berusaha untuk menjauh dan berpura-pura tak lagi mengenal. Saya rindu untuk masa tak terlupakan itu sewaktu-waktu asal kamu tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar