Selasa, 07 November 2017

Kepemimpinan dalam Islam


Allah menurunkan manusia kebumi, untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard. Karena manusia, berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Manusia bukan hanya diberikan fisik yang hebat, dan akal yang luar biasa. Tetapi juga struktur kejiwaan yang indah. Sehingga semua potensi tersebut, tidak Allah berikan secara percuma. Tapi Allah perintahkan manusia dengan segala keberdayannya untuk menciptakan kemakmuran dimuka bumi.

Kepemimpinan dalam Islam pada dasarnya high-risk, tetapi juga high-value. Karena Allah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pemimpin yang adil, tetapi juga mengancam para pemimpin yang dzalim. Bahkan Imam Ghazali mengatakan,”Pemimpin yang adil dalam satu hari, lebih baik daripada beribadah kepada Allah selama 70 tahun”. Itulah cara Allah menghargai pemimpin. Rasulullah saw juga bersabda,”Kullu kum roin wa kullukum mas’ulun anraiyathi”. Tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

          Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah". (Al-Anbiya’: 73)

Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah kepemimpinan? Al-Qur’an menyebutkan beberapa istilah yang sepadan dengan makna pemimpin, di antaranya adalah: iman, ulil amri, wali, khalifah, malik, dan lainnya. 

Pertama, Imam adalah pemimpin atau teladan, sebagaimana bisa dipahami dari QS. Al-Baqarah: 124, yaitu:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, maka Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu IMAM bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mendapatkan orang-orang yang zalim”.

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah Volume 1, ayat di atas mengisyaratkan bahwa kepemimpinan dan keteladanan haruslah berdasarkan kepada keimanan dan ketaqwaan, pengetahuan, dan keberhasilan dalam aneka ujian. dengan demikian, islam menilai bahwa kepemimpinan bukan hanya sekedar kontrak sosial, yang melahirkan janji dari pemimpin untuk melayani yang dipimpin sesuai kesepakatan bersama serta janji ketaatan dari yang dipimpin kepada pemimpin, tetapi juga harus terjalin hubungan yang harmonis antara yang diberi wewenang mempimpin dan TUHAN, yaitu berupa janji untuk menjalankan kepemimpinan sesuai dengan nilai-nilai yang diamanatkan-Nya.

Kedua, kata ulil amri sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nisa: 59, yaitu:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ULIL AMRI di antara kamu. Maka, jika kamu tarik-menarik pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah is kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya.”

Ulil amri dalam ayat tersebut dapat diartikan sebagai orang-orang yang berwenang mengurus urusan kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti para penguasa/pemerintah, ulama, dan berbagai wakil masyarakat dalam kelompok maupun profesi. Ulil amri bisa berbentuk jamak maupun tunggal. Katakanlah seorang polisi lalu lintas yang mendapat tugas dan pelimpahan wewenang dari atasannya untuk mengatur jalan raya, ketika menjalankan tugas tersebut dia berfungsi sebagai salah seorang ulil amri. Hal ini sejalan dengan Hadist Nabi SAW yang menyatakan bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya.

Ketiga, kata wali sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Maidah: 55, yaitu:

“Sesungguhnya WALI kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka rukuk.”

Kata WALI dalam ayat di atas menunjukkan pada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Sumber pokoknya adalah satu, sedangkan Rasul dan orang-orang yang beriman pada hakikatnya menjadikan Allah sebagai WALI. Ini menunjukkan bahwa hierarki kepemimpinan dalam Islam menuju pada sumber pokok yaitu Allah, sedangkan kewalian manusia adalah tidak keluar dari aturan dan nilai-nilai dari sumber pokok tersebut.

Jika diperhatikan ketiga penggunaan kata imam, ulil amri dan wali dalam beberapa ayat Al-Qur’an tersebut nampaklah kriteria dan karakter pemimpin dalam pandangan Islam, yaitu:

Pertama, seorang pemimpin hendaknya telah teruji keperibadian dan kemampuannya sebelum layak ditunjuk sebagai calon pemimpin, dimana ujian tersebut beraneka macam dan berat, bahkan menunjukkan sikap pengorbanan serta dedikasi yang tinggi terhadap profesinya. Pemimpin yang tidak teruji dan tanpa melakukan pengorbanan tentulah akan menghasilkan mutu kepemimpinan yang rendah, dan bisa jadi mementingkan dirinya sendiri. Hasil ujian kepemimpinan tersebut berdampak pada saat ia menjalankan amanat kepemimpinan, sebagaimana dibuktikan dengan adanya kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Karenanya pemimpin adalah pemimpi yang memiliki cita-cita dan keinginan tinggi terhadap lembaga yang dipimpinnya, dan berupaya mewujudkan mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Kedua, pemimpin dapat berupa kelompok maupun individu, dimana setiap orang bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya menurut profesinya masing-masing. Kinerjanya merupakan amanat yang akan dipertanggungjawabkan baik kepada yang dipimpinnya maupun kepada Allah SWT kelak di akhirat, mengingat kepemimpinan dalam Islam tidaklah sekedar kontrak social melainkan amanat dari Allah SWT.

Ketiga, kepemimpinan dalam pandangan Islam menuntun pemimpinnya untuk menyelesaikan urusan mereka dengan merujuk pada sumber pokok nilai-nilai dan ajaran ketuhanan, keimanan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaatan kepada Allah oleh seorang pemimpin tercermin dari sikap dan perilaku serta akhlaknya sehari-hari dan kedekatannya dengan masjid, karena kepemimpinan dalam pengertian wali tersebut di ayat tadi mendekatkan kata wali dengan ibadah shalat, zakat dan rukuk.

Sumber :
Quraish Shibab, Tafsir al-Mishbah Vol.1, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hal. 378-379.

Thaba’taba’I, Tafsir Mizan, Jakarta: Firdaus, 1991, hal. 4-6.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar