Senin, 05 Maret 2018

Mempelajari Teks Hadist, Agama adalah Nasihat


Agama Adalah Nasihat

Teks Hadits :


عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ


Artinya : Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak (untuk) siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak (untuk) Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (Diriwayatkan oleh Muslim).

Syarah (Penjelasan Hadits)
“Agama itu nasihat.”
Kata ad-dien dalam bahasa Arab mempunyai dua makna:
  1. Pembalasan, contohnya firman Allah ta’ala, مَالِكِ يَوْمِ الدِّيـن Artinya: “Yang menguasai hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah [1]: 4)
  2. Agama, contohnya firman Allah ta’ala, وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً Artinya: “Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Adapun dalam hadits kita ini, yang dimaksud dengan kata ad-dien adalah: agama (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 135-136). 
Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu yang secara etimologi mengandung dua makna:
  1. Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu.
  2. Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.

Adapun definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.
Dalam memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “agama itu nasihat”, para ulama berbeda pendapat; ada yang mengatakan bahwa semua ajaran agama Islam tanpa terkecuali adalah nasihat. Sebagian ulama yang lain menjelaskan maksud dari hadits ini adalah bahwa sebagian besar ajaran agama Islam terdiri dari nasihat, menurut mereka hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
« الدعاء هو العبادة »
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud (II/109 no. 1479), at-Tirmidzi (V/456 no. 3372) dan Ibnu Majah (V/354 no. 3828), At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih, Ibnu Hajar dalam Fath al Bari, (I/49) berkata, sanadnya jayyid (bagus), Al-Albani berkata: shahih.)
Juga semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
« الحج عرفة »
“Haji adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi (III/228 no. 889), an-Nasai (V/256), Ibnu Majah (IV/477 no. 3015), Ahmad (IV/309) dan Ibn Khuzaimah (IV/257). Al-Albani berkata: shahih.)
Bukan berarti bahwa ibadah dalam agama Islam itu hanya berbentuk doa saja, juga bukan berarti bahwa ritual ibadah haji hanya wukuf di Arafah saja, yang dimaksud dari kedua hadits adalah: menerangkan betapa pentingnya kedudukan dua macam ibadah tersebut.
Akan tetapi jika kita amati dengan seksama hal-hal yang memiliki hak untuk mendapatkan nasihat -yang disebutkan dalam hadits ini- akan kita dapati bahwa betul-betul ajaran agama Islam semuanya adalah nasihat, tanpa terkecuali. Entah itu yang berkenaan dengan akidah, ibadah, maupun muamalah. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 54-55)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja tidak langsung menjelaskan dari awal siapa saja yang berhak mendapatkan nasihat ini, agar para sahabat sendiri yang bertanya untuk siapakah nasihat itu. Tujuan metode ini -yakni metode melemparkan suatu masalah secara global kemudian setelah itu diperincikan-, adalah agar ilmu tersebut membekas lebih dalam. Hal itu dikarenakan tatkala seseorang mengungkapkan suatu hal secara global, para pendengar akan mengharap-harap perincian hal tersebut, kemudian datanglah perincian itu di saat kondisi jiwa berharap serta menanti-nantikannya, sehingga membekaslah ilmu itu lebih dalam di dalam jiwa. Hal ini berbeda jika perincian suatu ilmu sudah disampaikan kepada pendengar sejak awal pembicaraan. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 136)
قلنا: لِمَـنْ؟
Kami (para sahabat) bertanya, “Hak siapa nasihat itu wahai Rasulullah?”
Huruf lam dalam perkataan para sahabat لِمنْ fungsinya adalah untuk istihqaq (menerangkan milik atau hak), yang berarti: nasihat ini haknya siapa wahai Rasulullah? (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 55).
قال: لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم.
Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”.
Dalam jawaban beliau ini diterangkan bahwa yang berhak untuk mendapatkan nasihat ada lima:
  1. Nasihat untuk Allah adalah; mentauhidkannya, menyifatinya dengan sifat yang sempurna dan mulia, menyucikannya dari sifat-sifat yang bertentangan dengan kesempurnaan dan kemuliannya, tidak bermaksiat kepada-Nya, melakukan ketaatan kepada-Nya dan melaksanakan apa-apa yang dicintai-Nya dengan ikhlas, mencintai karena-Nya dan membenci karena-Nya, berjihad melawan orang-orang yang kafir dan membangkang kepada-Nya, dan mengajak dan menganjurkan (orang lain) untuk berjihad orang-orang yang kafir dan membangkang kepada-Nya.
  2. Nasihat untuk kitab-Nya adalah; beriman kepadanya, mengagungkannya, menyucikannya, membacanya dengan bacaan yang benar. Memperhatikan perintah-perintah dan larangan-larangannya, berusaha memahami ilmu-ilmunya dan perumpamaan-perumpamaannya, meresapi kandungan ayat-ayatnya dan mendakwahkannya, dan mencegah usaha orang-orang yang ingin merubahnya dan mencelanya.
  3. Nasihat untuk Rasul-Nya, maka seperti itu pula dan mendekatinya. Yaitu; beriman kepadanya dan kepada apa-apa yang ia bawa (berupa risalah Islam ini), menghormati dan mengagungkannya, senantiasa berpegang teguh dengan ketaatan kepadanya, menghidupkan sunnah-nya, menyebarluaskan ilmunya, memusuhi orang yang memusuhinya dan memusuhi sunnah-nya, mencintai dan berloyalitas terhadap orang yang mencintainya dan mencintai sunnah-nya, berakhlak dengan akhlaknya, beradab dengan adabnya, mencintai keluarganya dan para sahabatnya, dan semisalnya.
  4. Nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin adalah; membantu dan menolong mereka dalam al-haq dan ketaatan kepada mereka, mengingatkan mereka (di saat mereka lalai) dengan cara yang baik dan lemah lembut, tidak berdemonstrasi atau melawan kepada mereka, mendoakan mereka agar mereka diberi taufiq (oleh Allah), dan menganjurkan atau mengajak orang-orang yang menginginkan kebaikan agar mendoakan mereka.
  5. Nasihat untuk kaum muslimin secara umum (selain para pemimpin mereka) adalah; membimbing mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan maslahat bagi mereka, mengajarkan mereka perkara agama mereka, menutupi aurat mereka, menutupi aib dan kekurangan mereka, menolong dan membantu mereka melawan musuh-musuh mereka, membela mereka, menjauhkan segala bntuk penipuan dan hasad dari mereka, mencintai untuk mereka seperti ia suka mencintai untuk dirinya sendiri, membenci untuk mereka seperti ia tidak suka membenci untuk dirinya sendiri, dan yang serupa dengan itu”.

Pelajaran dan Faidah Hadits:
  1. Agung dan tingginya keadaan dan kedudukan nasihat dalam syariat Islam.
  2. Penjelasan untuk siapa nasihat diperuntukkan.
  3. Anjuran untuk menasihati kepada lima hal yang dijelaskan dalam hadits.
  4. Semangat para sahabat dalam memahami perkara-perkara agama. Hal itu dapat diketahui dari pertanyaan mereka tentang nasihat ini.
  5. Sesungguhnya agama disebutkan untuk diamalkan, karena Nabi menamakan nasihat ini sebagai agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar